MEDIARESMI.COM | Kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) di Tanah Rencong, selama ini mendapat banyak sorotan dan kritik publik.

Sebab, Bank Syariah Indonesia itu dianggap belum dapat melayani nasabah dengan maksimal. Memang, BSI baru beroperasi dan memerlukan migrasi besar-besaran, sehingga mengalami sejumlah kendala dalam hal pelayanan.

Namun, Guru Besar Filsafat Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag mengatakan, kehadiran BSI merupakan langkah maju bagi eksistensi lembaga keuangan syariah di Aceh.

BSI merupakan gabungan tiga bank nasional terbesar di Indonesia, yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS), dan Bank Nasional Indonesia Syariah (BNIS).

Ketiga bank syariah itu kini telah dileburkan menjadi satu perbankan syariah modern yang disebut Bank Syariah Indonesia atau BSI.

Menurut Prof Syamsul Rijal, bank ini seharusnya kini menjadi sebuah kekuatan besar, karena selain memiliki gabungan aset, juga memiliki gabungan pengalaman sebelumnya.

“Semua bank konvensional mutasi ke bank syariah tentu memerlukan pelayanan prima. Melihat pengalaman manajemen perbankan dari cikal bakal BSI, sejatinya tidak serumit keadaan saat ini,” kata Prof Syamsul Rijal.

Menurutnya, terlihat standar mutu pelayanan gagal diterapkan di lapangan, misalnya pelayanan ATM belum prima, konversi rekening ke BSI menyebabkan nasabah merasa dirugikan dengan sistem pelayanan yang ada.

“Meskipun dimaklumi dibutuhkan waktu yang cukup untuk pemulihan rekening dengan pelayanan standar mutu,” ujar Prof Syamsul Rijal saat diminta tanggapannya oleh Wartawan MEDIARESMI.COM, Sabtu malam 12 Juni 2021.

Mantan Wakil Rektor UIN Ar-Raniry itu menjelaskan, sebagai bank syariah yang sebelumnya sudah sangat berpengalaman, seharusnya mereka mempunyai tata kelola terbaik.

“Seharunya mereka punya tata kelola terbaik, sehingga tidak terjadi keluhan nasabah, tidak pada tempatnya. Kenapa tidak digunakan waktu nomor urut untuk konversi rekening, sehingga tidak seharusnya antri yang malah harus kecewa karena tidak tuntas misalnya.”

Menurut Prof Syamsul Rijal, diperlukan sosialisasi yang matang dan kesigapan konversi. “Selain itu, nasabah juga harus melatih diri dalam kesabaran terhadap perubahan kebijakan perbankan,” tandasnya.

Penulis: Hidayat Pulo

________

Pertama kali diterbitkan di Media Resmi

Syamsul Rijal Sys

Guru Besar Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

Bagikan:

Tags:

Leave a Comment