SERAMBINEWS.COM – Suasana menjelang puncak ibadah haji di Tanah Suci tidak hanya dipenuhi aktivitas persiapan fisik para jamaah, tetapi juga geliat memperkuat kualitas ibadah melalui pembelajaran Al-Quran.
Fenomena itu tampak di kawasan pemondokan jamaah haji Indonesia di Makkah, termasuk jamaah asal Aceh yang kini mulai ramai mengikuti kelas tahsin atau perbaikan bacaan Al-Quran.
Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Syamsul Rijal, menyebut kegiatan tersebut menjadi salah satu pemandangan spiritual yang menarik selama proses observasi sosial yang ia lakukan di Tanah Suci.
“Menjelang wukuf di Arafah, suasana di Makkah semakin padat sekaligus khusyuk. Jamaah asal Aceh yang tergabung dalam Kloter 1 sampai 12 kini menempati Sektor 6 kawasan Jarwal, tepatnya di Tower Wihdah Al-Mutamayyiz,” paparnya, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, semangat ukhuwah antarsesama jamaah sangat terasa. Jamaah yang memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih banyak dengan sukarela membantu jamaah lain, mulai dari berbagi tips ibadah hingga membimbing bacaan Al-Quran.
Fenomena menarik justru terlihat setelah shalat Subuh. Para mukimin atau warga lokal membuka halaqah tahsin yang diikuti jamaah dari berbagai negara, termasuk jamaah Indonesia. Mayoritas peserta yang duduk melingkar ternyata para jamaah lanjut usia.
“Di Aceh, kita mengenalnya dengan istilah peutepat Fatihah (memperbaiki bacaan Al-Fatihah),”
“Jika biasanya kita akrab dengan program ‘Magrib Mengaji’ untuk anak-anak, maka gerakan tahsin untuk dewasa dan lansia tentu akan memberikan dampak spiritual yang luar biasa,” ujar Prof Syamsul.
Ia menilai, kelas tahsin di Tanah Suci bukan sekadar belajar membaca Al-Quran, melainkan bagian dari persiapan spiritual menuju ibadah haji yang lebih sempurna.
Sebab, hampir seluruh rangkaian ibadah haji dipenuhi doa, zikir, dan bacaan yang membutuhkan ketepatan pelafalan.
Menurutnya, ada sejumlah hikmah penting dari antusiasme jamaah lansia mengikuti tahsin di Makkah.
Pertama, memperbaiki kualitas doa dan bacaan selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Kedua, menjadi latihan mental agar jamaah lebih percaya diri saat bermunajat di tempat-tempat mustajab seperti Arafah dan Multazam.
“Ketika bacaannya sudah benar, hati jamaah menjadi lebih tenang dan percaya diri saat memanjatkan doa langsung di tempat-tempat yang mustajab,” tambahnya.
Selain itu, tahsin juga membantu jamaah menghindari kesalahan tajwid yang dapat mengubah makna bacaan.
“Harus diakui, sebagian jamaah lansia masih sering keliru dalam tajwid. Kelas tahsin ini sangat krusial untuk mencegah kesalahan fatal yang bisa mengubah makna ayat atau doa,” ujarnya.
_________
Artikel ini tayang pertama kali di Serambi Indonesia.







Leave a Comment