Oleh: Prof. Dr. Syamsul Rijal

MENYERUPUT kopi (biasa disebut ngopi) bukanlah tindakan menyendiri. Ngopi itu bermakna berinteraksi.

Iya benar, ngopi sendiri itu akan terasa kurang pas. Karena itu mencuat kosa kata ngopi bareng.

Saat bertemu kolega, entah sudah lama tidak bersua dan atau sering berdua, saat ngopi itu menghadirkan inspirasi yamg dinamis dan bahkan inspiratif.

Ngopi bareng dinamis itu disertai dengan percakapan yang solutif.

Terkadang seseorang harus bijak mendengarkan masukan, sekaligus memberikan tawaran solusi.

Ngopi inspiratif itu adalah saat menerima masukan kebaikan dan kebajikan yang sangat bermanfaat untuk tatanan berkehidupan.

Namun, ngopi terkadang juga disertai dengan obrolan tidak sehat, dan jika ini terjadi secara massif dapat membahayakan pertemanan dan kelanggengan sebuah silaturahim yang prima.

Seperti saya alami ketika seorang sahabat mengadukan kekhawatirannya kepada saya, bahwa pengalamannya acapkali menerima berita tidak benar bahkan menyesatkan.

Kenapa harus gundah? Terus bagaimana solusi yang harus saya sampaikan?

Di saat saya mendengarkan cerita dia, saya tahu bahwa itu adalah berita bersifat “blasphemy” (ujaran kebencian), dimana saya tidak mau ambil bagian di dalamnya.

Namun, jika menolak mendengarkan, terkesan saya akan menanggalkan persahabatan.

Perbincangan seraya menyeruput kopi ini serius, ya saya serius merespon kegundahan sahabat ini.

Saya tatap dia dengan penuh persahabatan dan saya berikan advokasi.

“Tenang, jangan panik” kata saya memulai.

“Anda pernah dengar Socrates?”

“Belum,” ujarnya dengan rasa penuh ingin tahu.

Socrates adalah filsuf besar Yunani memberikan siasat menyetop berita tidak benar, agar tidak sampai kepada dirinya.

Begini, saat itu Socrates dihampiri seseorang dan berujar bahwa “tahukah Anda perihal teman dekat Anda?”

“Wah ada apa lagi ini? sebelum anda menyampaikan, yakinkan Anda bahwa apa yang akan Anda ceritakan itu ada kebenarannya,” ujar Socrates.

“Tidak tahu, saya hanya mendengar informasi itu,” jawab orang tersebut.

Socrates melajutkan kalimatnya, “kemudian apakah sesuatu yang hendak Anda ceritakan kepada saya ada ‘kebaikan’ di dalamnya?”.

Orang tersebut menjawab, “tidak”.

“Dan apakah yang akan Anda sampaikan itu ada ‘kegunaannya’ kepada saya?,” lanjut Socrates.

Orang itu menjawab lagi, “saya pikir ini tidak berguna buat Anda”.

Akhirnya Socrates mempertegas “bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan, dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?”.

Akhirnya sahabat Socrates tertegun dan memilih diam.

Teman semeja yang sedang menyeruput kopi bersama saya termenung.

Nah pikirkan baik-baik, stop lah pada diri Anda, di saat Anda menerima informasi tidak benar, dan atau lakukanlah tabayyun (klarifikasi) sehingga Anda adalah sosok penyampai kebenaran, penyampai kebaikan, dan berguna bagi semua.

Bukan sebaliknya, Anda hanya penebar kebohongan, memberitakan kejahatan, dan membangun paradigma sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sudah tiba waktu kita bubar ngopi untuk masing-masing melanjutkan tugas dan kewajiban kita.

Terima kasih dan sampai jumpa di lain kesempatan kata saya mengakhiri pertemuan ngopi bareng saat itu.

________

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Serambi News, dengan judul Ngopi, Blasphemy, dan Nasihat Socrates, https://aceh.tribunnews.com/2018/07/30/ngopi-blasphemy-dan-nasihat-socrates

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here