Oleh: Prof. Dr Syamsul Rijal, M.Ag

 

Corona Virus Deasese 2019 (Covid-19) ditetapkan sebagai musuh global. Mencuat akhir tahun 2019 dan masif ke penjuru dunia memasuki tahun 2020. Asal virus ini bermula di Wuhan, China. Di Indonesia diketahui sejak diumumkan pemerintah telah positif 2 warga 2 Maret 2020 yang berasal dari Depok.

Eksistensi corona untuk data saat tulisan ini di-update pada Sabtu, 28 Maret 2020, telah menjelajahi Covid-19 593.656 tertular (+) 132.526 dapat disembuhkan dan 27.215 meninggal dunia. Untuk data di Indonesia 1.155 (+) 59 pulih dibenarkan pulang dari perawatan dan 102 orang meninggal dunia. Sementara itu untuk provinsi Aceh, 383 ODP (329 belum diperiksa dan 54 selesai diperiksa 39 PDP (34 pulang dan sisanya 5 dirawat) positif corona 4 dan 2 orang meninggal.

Mencermati data nasional dalam rentang waktu 26 hari melonjak tajam dari 2 orang menjadi 1.155. Angka ini sejatinya menjadi atensi kita semua betapa penularan Covid-19 sangat signifikan dan diluar dugaan. Oleh karena itu diperlukan penanganan serius untuk pencegahan penularan sampai Covid-19 ini terhenti.

Kesadaran global

Pada 20 Maret 2020, Dr Tedros Adhanom dalam pressbriefing WHO menyebutkan bahwa “keberadaan Covid-19 membangkitkan kesadaran seluruh bangsa di dunia kondisi ini adalah jalan menjauhi sikap egoisme” Pandemi ini dapat ditangani dengan menghimpun kekuatan SDM secara global dan ini masalah global. Dalam konteks nasional tentu diperlukan kesadaran prima untuk mengatasi pencegahan penularan Covid-19 dengan merujuk kepada pengalaman negara yang lebih dahulu ditimpa musibah ini dengan memperhatikan sosio-kultural kita.

Negara berkewajiban melindungi warganya dan setiap warga berhak mendapat perlindungan sekaligus berkewajiban mengikuti aturan yang diterapkan negara dalam mengatasi Covid-19.

Muncul statemen yang tidak diperlukan dalam kondisi pencegahan, misalnya menentang seruan pemerintah untuk tidak dalam keramaian, menjaga jarak sosial, dan interaksi transpersonal malah ada yang menyebutkan kita tidak takut corona kita hanya takut kepada Allah. Sebuah statemen yang naif dan menunjukkan kekerdilan sikap. Mereka beranggapan virus ini makhluk Allah dan mereka lupa bahwa Allah melarang kita menjerumuskan diri ke dalam kerusakan dan kebinasaan.

Diperlukan berpikir dengan akal sehat, ikhtiar menghidari diri dari penularan Covid-19 ini urgen. Setiap pribadi menjaga diri dan turuti ketentuan medis karena ini perihal empirik dan terbukti penyebaran yang berbahaya bagi kesehatan bahkan menyebabkan kepada kematian.

Dalam konteks wabah Covid-19 sejatinya lita tanamkan rasa kepedulian dan kebersamaan kemanusiaan kita. Mengikuti anjuran pemerintah “stay at home” adalah upaya sinerjis untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 sehingga wabah ini cepat terhenti.

Saatnya kita peduli berikan respons  positif terhadap penanganan wabah ini jadilah kita bagian dari sosok yang peduli antar sesama. Hentikan komentar yang kita tidak memiliki pengetahuan tentang itu, taat dan patuh terhadap mekanisme dan aturan yang telah ditetapkan negara adalah bagian dari kepedulian warga membangun solidaritas  kemanusiaan. Partisipatori yang kita tunjukkan dalan taat aturan dan kebersamaan itu adalah menyelamatkan subtansi kemanusiaan.

Semoga kita berada dalam atmosfer yang peduli.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here