Catatan ini telah dimuat sebelumnya di SerambiNews.com berjudul Multicultural Mawlid Concert di Sydney pada 15 Desember 2017 dan juga pada Wastha.com dengan tulisan Konser Maulid di Sidney, 6 Desember 2017.  Dan disatukan dalam tulisan di blog pribadi ini  sebagai catatan perjalanan. 

“SELAMAT datang di Kota Sydney, kami bangga atas kehadiran Anda semua. Kita di sini dapat bersinergi membangun peradaban,” ujar David Hurley, Gubernur Jenderal NSW saat membuka acara Islamic International Conference, kemudian dilanjutkan dengan Multicultutal Mawlid Concert di Hall Stadion Olympic Sydney, Australia, Senin lalu.

Disambut dengan ramah oleh warga muslim setempat dari دار الفتوى سيد نى

Saya berkesempatan mengunjungi Sidney, Australia untuk suatu lawatan akademik konferensi internasional bertajuk Moderation in Islam. Pertemuan ini dilaksanakan Darul Fatwa, Islamic High Council Australia, bekerja sama dengan MUI DKI Jakarta. Pesertanya para tokoh masyarakat setempat, ulama, dan akademisi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Selandia Baru, Fiji, Sri Lanka, Somalia, dan Australia.

Sebagai even seminar internasional, acara ini diisi dengan bahasan yang signifikan dengan isu kemanusiaan kontemporer, seperti keterbelakangan, kemiskinan, dan meruaknya radikalisme, serta teror yang notabene muslim menjadi objek, padahal kehadiran Islam adalah sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam. Islam hadir untuk kemaslahatan dunia, sehingga tidaklah tepat kemunculan terorisme dialamatkan kepada Islam, karena Islam justru pembawa peradaban kemanusiaan.

Opening ceremony seminar ini menjelang sore. Yang sangat menakjubkan adalah seminar ini dilanjutkan dengan perayaan maulid Nabi Muhammad saw. Tradisi perayaan maulid ini terbilang unik, diawali oleh Sayid al-Husainy, seorang tokoh di Darul Fatwa. Ia membawa dengan cara memangku sebuah bejana yang di dalamnya terdapat seuntai rambut Rasulullah, dari ruang seminar menuju tempat konser. Bejana kaca itu diterangi lampu kristal, sehingga terlihat jelas oleh siapa pun seuntai rambut melingkar dalam formasi huruf S. Saat bejana kaca itu dibawa ke tempat konser, diiringi dengan tabuhan genderang diserta selawat kepada Nabi Muhammad. Inilah kekhasan even ini.

Lalu, satu per satu tokoh yang hadir diberikan kesempatan untuk melihat dari dekat rambut nabi. Bahkan ada yang tidak sekadar melihatnya, tapi malah menciumnya dan mengusap bejana kaca pertanda ada sebuah keyakinan sesuatu yang memberikan manfaat bagi yang melakukannya seperti itu. Bagi saya ini yang pertama menyaksikan hal yang demikian.

Sampai di Stadion Olympic, karena jarak antara hall pertemuan seminar dengan hall stadion terpaut 200 meter, disambut oleh gegap gempita pengunjung yang telah lama hadir tidak sabar menunggu mereka bersorak gembira karena dengan hadirnya tokoh dunia bersamaan dengan Ketua Darul Fatwa yang membawa rambut Rasulullah itu pertanda konser maulid akan segera digelar.

Stadion Olympic, tempat acara berlangsung, dipadati oleh puluhan ribu pengunjung, mewakili multibangsa. Sangat boleh jadi mereka itu warga Australia setempat ataupun tamu mereka yang datang dari penjuru Tanah Air. Di antara mereka ada muslim berkebangsaan Lebanon, Iran, Yaman, Somalia, Afghanistan, Bangladesh, Fiji, dan bangsa lainnya yang memadati stadion. Semua menantikan even Multicultural Mawlid Concert.

Di bagian VVIP duduk para tokoh ulama dari berbagai penjuru dunia yang memang hadir mengikuti seminar internasional sekaligus mengikuti tradisi maulid Nabi Muhammad.

Setelah diberikan sambutan pembuka oleh Ketua Darul Fatwa, di mana Gubenur Jenderal NSW juga menyaksikan acara ini, menjadi perhatian tersendiri bagi saya bagaimana dia membangun kebersamaan dalam bingkai peradaban di Australia meskipun itu dilakoni oleh warga dari kelompok minoritas. Ternyata ikatan peradaban yang mengikat emosionalitas warga sebagai warga Australia sangat dirasakan dalam concert mawlid ini. Bagi mereka ini adalah suguhan kultural yang menginspirasi dan menarik untuk mereka nikmati meskipun sebagian mereka bukan muslim.

Di tribun utama tampil anak-anak usia lima tahunan sampai belasan tahun mengusun formasi dengan kostum yang menarik dari ragam bangsa. Ini sungguh sebuah pemandangan yang memuat saya masygul, apalagi mereka dengan khidmat melantunkan syair bentuk pujian selawat kepada Nabi Muhammad saw.

Lantunan selawat yang dikumandangkan diiringi dengan genderang musik berdasarkan etnisitas si pelantun selawat. Semua ini makin menambah ketakjuban saya.

Dalam formasi berikutnya ditampilkan pementasan drama kehidupan Rasulullah dan sahabatnya. Pementasannya dengan pendekatan IT sound serta lighting yang menakjubkan. Pemerannya benar-benar dari multietnis dan bangsa yang menjadi warga Australia. Keseriusan pemeran yang sangat super mengambarkan multikultural penyambutan tradisi maulid di kalangan warga muslim Australia.

Bagi saya, pementasan selawat dalam bentuk concert multicultural yang baru perdana saya saksikan. Ada sisi edukasi-historis yang membangkitkan spirit cinta kepada Rasul bagi yang berhadir dari pementasan selawat tersebut. Muhammad nabi kita, misinya membawa rahmat. Dialah Rasulullah. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here