Banda Aceh (Waspada Aceh) – Guru Besar Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Syamsul Rijal, mengatakan, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Aceh diperlukan kontribusi dari para pakar yang handal.

Prof Syamsul Rijal mengatakan hal itu menjawab pertanyaan Waspadaaceh.com, Jumat (30/4/2021), terkait Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2021. Menurutnya, sudah waktunya bagi yang berwenang, yakni Dinas Pendidikan, untuk memikirkan secara strategis, bagaimana upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan pada level nasional.

“Salah satu caranya adalah diperlukan atau dibutuhkan pakar-pakar pendidikan Aceh untuk berkontribusi dan memikirkan tentang keadaan serta bagaimana mewujudkan pendidikan di Aceh,” ucapnya.

Selanjutnya Guru Besar UIN Ar-Raniry ini juga menyebutkan, bahwa untuk meningkatkan sumber daya manusia perlu adanya pemerataan pendidikan di Aceh. Dengan begitu, dunia pendidikan di Aceh akan lebih maju.

“Aceh harus punya peta tentang pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Sehingga 5-10 tahun yang akan datang dapat menghasilkan sumber manusia yang handal sesuai dengan bidangnya masing-masing,” lanjut Syamsul Rijal.

Menurutnya dalam konteks ke Aceh-an, sumber daya manusia yang perlu diupgrade untuk dunia pendidikan tidak hanya masalah agama atau sosial humaniora, tetapi juga masalah sains dan teknologi.

Dia menuturkan, hal itu memerlukan pakar-pakar humaniora pakar pendidikan, pakar hukum, sosial, syariah, sain dan teknologi. Itu semua bertujuan agar kekurangan yang dihadapi Aceh dalam membangun dunia pendidikan dan ekonominya, bisa diatasi dengan hadirnya sumber daya yang handal.

Terkait program Aceh Carong, menurutnya perlu dievaluasi secara seksama agar kesempatan belajar melalui beasiswa betul-betul tepat sasaran, sehingga melahirkan generasi cerdas serta generasi visioner.

Syamsul Rijal mengatakan, pandemi COVID-19 bukan menjadi penghambat terjadinya proses belajar mengajar. Bagaimana pun ada celah atau cara untuk meningkatkan pendidikan di Aceh. Semua elemen harus kreatif supaya transfer ilmu itu bisa sampai kepada peserta didik.

“Guru atau dosen harus punya cara atau punya celah untuk dapat menyiasati, sehingga transfer ilmu itu betul-betul bisa sampai kepada peserta didik,” tegasnya.

Dia menuturkan bahwa pandemi COVID-19 ini bukan hanya memberikan dampak yang negatif, tapi juga ada dampak positifnya, di antaranya terkait penggunaan teknologi.

“Mengenai program belajar mengajar melaui teknelogi informasi, bukanlah yang baru. Sejak lama sudah ada, tapi belum merata. Sekarang ini mau tidak mau, untuk menghambat proses penyebaran COVID-19 tentu pilihanya adalah pembelajaran melalui daring,” ucapnya. (Kia Rukiah)

___________

Tulisan ini pertama kali di muat di Waspada Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here