MEDIARESMI.COM | Kondisi ekonomi rakyat Aceh memang masih menjadi sorotan, apalagi setiap tahunnya BPS mengeluarkan data resmi yang menunjukkan Aceh berada di posisi termiskin di Sumatera.

Besarnya dana APBA dan dana Otonomi Khusus yang dikucurkan Pemerintah Pusat setiap tahunnya hingga belasan triliun juga belum mampu menjawab tantangan kemiskinan di Tanah Rencong.

Guru Besar Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry mengatakan, perlu keterlibatan perbankan untuk memperbaiki kemiskinan melalui permodalan syariah.

Bank Aceh Syariah, khususnya, dinilai mampu mengayomi masyarakat menengah ke bawah yang ekonominya masih lemah. Karena, kalangan menengah ke bawah sangat membutuhkan permodalan dalam menjalankan usahanya.

Berbeda dengan kalangan atas, yang selama ini dinilai sudah mendapat banyak kemudahan. “Fondasi kapital telah didukung oleh Pemerintah dan nasabah dari ASN. Seyogyanya warga kelas menengah menjadi objek permodalan usaha mereka,” kata Prof Syamsul Rijal.

Namun begitu, mantan Wakil Rektor UIN Ar-Raniry itu menuturkan, perlu adanya pendampingan khusus agar mereka yang diberikan amanah tersebut bertanggung jawab.

“Saat dikhawatirkan mereka tidak amanah karena persoalan kultural diberi amanah belum baik, disinilah diperlukan pendampingan. Bank Aceh harus merekrut tenaga pendamping yang mengedukasi agar roda ekonomi kelas bawah berjalan baik,” jelasnya.

Profesor yang dikenal dengan saran-saran inspiratif ini menambahkan, untuk merekrut pendamping memang dibutuhkan biaya yang besar.

Tapi dirinya yakin dengan pendampingan dan binaan serius, bakal melahirkan tradisi amanah atau kultur trust di tengah kehidupan warga kekinian yang mahal.

“Tapi jika tidak dimulai, warga kelas ekonomi lemah selalu terjebak dengan rentenir dan mereka akan menjadi terpuruk. Pada posisi ini BAS harus hadir mengayomi semua untuk bangkit dan sejahtera,” harapnya.

Karena bukan ahli ekonomi, Prof Syamsul Rijal tidak mengupas terlalu lebar soal untung rugi dalam perspektif ekonomi perbankan. Ia hanya menjelaskan soal dasar filosofi kemanusiaan.

“Membangun warga sementara dalam bantuan ekonomi (pinjaman) tidak boleh hanya dalam perspektif laba rugi tetapi juga dasar filosofi kemanusiaan. Dimana letak kepedulian dan kemanusiaan untuk saling membantu,” pungkasnya.

Penulis : Hidayat Pulo

_____

Diterbitkan pertama kali di Media Resmi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here