Foto: Hayatullah Pasee
Foto: Hayatullah Pasee
Foto: Hayatullah Pasee

Banda Aceh – Sejak serangan teroris 11 September 2001 yang terjadi di New York dan Washington DC, masyarakat Amerika Serikat mulai belajar tentang Islam. Upaya Amerika Serikat memerangi terorisme di dunia menuai banyak kritik dan pujian. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat untuk menyerang Irak dan Afghanistan sebagai upaya memerangi terorisme masih terus diperdebatkan.

Demikian ungkap Consul General of Amerika In Medan, Kathryn A. Crockart dalam Stadium General “Islam And West” yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry menyambut HUT tahun emas yang 50, Jumat (25/4/2013).

Menurut Kathryn saat itu persoalan agama menjadi sangat krusial di Amerika. Tetapi sekarang lebih 3.000 mesjid telah di bangun di Amerika Serikat. Di New York sendiri telah berdiri lebih dari 200 mesjid. “Di sana ada bermacam-macam mazhab. Tapi mereka shalat bersama-sama tidak ribut. Muslim di sana ada yang warga asli Amerika dan yang imigran,” tukas Kathryn.

Kata Kathryn lagi yang menjadi tantangan umat Muslim di sana ketika ada keluarga imigran muslim yang ingin menetap di sana, mereka lebih cendrung mengikuti budaya kebarat-baratan. Bahkan katanya lagi, umat muslim sudah tidak punya cukup waktu untuk berdakwah.

Pengakuan Kathryn, umat Muslim terus bertambah di Amerika, namun jumlah spesifik tidak diketahui karena statistik di sana tidak menanyakan agama apa yang dianut. “Perkiraan mencapai 2 juta lebih,” tandasnya lagi. Menurutnya, Pemerintah Amerika Serikat tidak punya data pasti tentang jumlah Muslim disana. “Tapi diperkiran sekitar 2 sampai 10 juta orang muslim di Amerika saat ini.”

Dalam diskusi yang dihadiri banyak alumnus Amerika Serikat itu juga dipadukan dengan nara sumber Prof. Drs. Yusni Sabi, MA. Ph.D. Menurut Yusni untuk menciptakan perdamaian dunia maka jangan dibedakan antara orang timur dan barat. Namun yang menjadi problematika sekarang antara barat dan timur saling tidak suka.

“Kita berada dimana-mana. Kita ingin disambut baik dimana-mana. Masalahnya sekarang seolah timur dan barat saling melihat ada kengerian. Problemnya itu sekarang mesti diselesaikan. Jangan saling menyalahkan. Tapi hegemoni ekonomi, budaya, poltik, itulah problemanya,” tandas Yusni.

Diskusi yang dimulai pukul 09.00 WIB berlangsung selama dua jam. Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr. Syamsul Rijal Sys, MA mengatakan diskusi “Islam dan Barat” ini bertujuan mengambil peran untuk kedamaian dunia. “Karena Islam itu agama yang rahmatan lil alamin,” katanya.

 

Sumber: TheGlobeJournal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here