IDUL FITRI lazim kita sebut sebagai hari kemenangan. Kemenangan umat Islam setelah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Takbir, Tahlil dan Tahmid bergema di seluruh penjuru dunia di mana di sana ada umat Islam.

Apakah esensi kemenangan itu? apatah kemenangan hanya menjadi piasan tahunan yang menghiasi ragam media di mana kerap menyebut Idul Fitri sebagai hari Kemenangan. Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Dr Syamsul Rijal, MAg yang juga sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh, pada MIHRAB edisi kali ini mengupas lebih dalam makna kemenangan bagi umat Islam.

Menurutnya, mereka yang menemukan kefitrahannya adalah mereka yang menang dalam arti sukses mengendalikan nafsu di bulan Ramadhan sebagai bagian integral dari pensucian jiwa (bathiniyah).

Mereka yang menang dan sukses adalah mereka telah beribadah di bulan Ramadhan. Tidak cukup hanya sebatas memperoleh kemenangan, tetapi bagaimana mereka yang menang itu dapat mengaplikasikan nilai subtansial dari kemenagan itu dalam kehidupan sehari-hari di luar Ramadhan.

Ia juga mengatakan, orang yang menang itu adalah mereka memiliki jiwa yang suci, jiwa yang tenang dan damai. Jiwa yang siap melakukan perubahan kehidupan yang diridhai Nya. Jiwa yang mampu memberikan solusi kehidupan sehingga dengan sangat mudah mampu menjadi pelopor kebaikan serta meredam kejahatan di tengah tengah kehidupan komunitasnya.

“Inilah esensi kemenangan yang perlu dipelihara serta diperlukan dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat madani,” katanya.

Ia juga menukil ayat Alquran, “Sesungguhnya telah mendapat kemenanganlah orang-orang yang telah berupaya mensucikan rohnya dengan berpuasa. Lalu berzikir dan bertakbir kemudian melakukan shalat hari raya. (Al-A’la: 14-15).

Menurutnya, para pemenang itu memiliki karakteristik, seperti senang dan cepat merespons rasa syukur dari kemenangan dengan mengumandangkan asma Allah dengan mengucapkan takbir, dan tahmid yang membahana. Puncak rasa syukur itu juga diimplementasikan dengan prilaku ruku’ dan sujud bersama yang dijabarkan ketika shalat idul fitri, semata mengharapkan ridha Nya.

Manusia yang memperoleh kemenangan itulah disebut manusia fitri, yaitu mereka yang kembali kepada fitrah jati diri kemanusiaannya karena telah meraih kemangan lewat proses pensucian batin sebagai konsekuensi serta makna ibadah yang mereka lakukan di bulan ramadhan.

Dalam konteks ini, menurut Syamsul Rijal, sejatinya setiap manusia fitri (baca:yang menang) akan tetap memelihara penghambaan diri mereka kepada rabb al-alamin dengan menjaga kesucian hati serta memelihara predikat taqwa. Ketaqwaan itu adalah simbul dari al ladzina yu’minuna bi al-ghaib wa yuqimun al-sahalat wa mimma razaqnahum yunfiqun.

Manusia fitri berkeyakinan semua prilaku duniawinya akan mendapat balasan dan ganjaran dari Allah SWT di hari akhirat kelak sebagai instrument alam ghaib. Persiapan diri menuju ke sana adalah memelihara dan menegakkan salat sebagai komunikasi langsung terhadap yang Maha Rahman dan di dalam kehidupan duniawi senanitasa tetap dijaga agar bernilai ukhrawi maka seseorang itu tetap harus memiliki solidaritas dan rasa kemanusiaan dengan peduli antar sesama melalui cara memberikan sebagian anugerah ilahi kepada yang membutuhkannya.

Para pemenang, menurut Syamul Rijal wajib merespons setiap persoalan yang ada di sekitarnya. Sebab menurutnya, salah satu problem utama yang dihadapi umat terkini adalah kebodohan dan keterbelakangan yang massive di tengah-tengah kehidupan, merosotnya prestasi dunia kependidikan, demikian juga kemiskinan serta kesenjangan sosial, runtuhnya nilai-nilai moral dalam kehidupan, narkoba, prilaku seks bebas, murtad dan sebagainya memerlukan tindakan pencegahan yang bersahaja. “Bagi orang yang fitri, yang mereka yang telah memperoleh kemenangan wajib bermuhasabah apakah sudah bertindak sewajarnya merespons serta membasmi masalah ini,” ujarnya.

Jika tidak berlaku demikian, tidak mustahil bangsa ini, menurut Syamsul Rijal bernasib seperti kaum Saba’ yang akhirnya ditenggelamkan oleh Allah karena kelalaian dan kealpaan mereka dalam setiap kemaksiatan di masyarakat.

Untuk itu, Syamsul Rijal berpesan agar kefitrahan itu terus ada pada setiap pribadi muslim yang telah berpuasa selama Ramadhan, maka setiap muslim wajib memelihara sikap terpuji yang terpatri dalam kepribadian mereka. “Dengan berbekal kepribadian mulia itu akan lahir komunitas masyarakat madani di mana tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri tetapi juga berguna bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara. Itulah karakter anusia manusia yang menang sebagai wujud manusia fitri,” pungkasnya. (ari)

 

Sumber: Serambi News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here