Pemilihan kepala daerah (pilkada) bukan hanya dimaknai sebagai sebuah proses demokrasi. Pilkada juga dapat menjadi media bagi para calon kepala daerah yang bersaing untuk  mendengarkan suara hati rakyat. “Mendengar apa yang rakyat mau, apa yang menjadi keinginan mereka, merupakan hal penting dalam sebuah proses demokrasi seperti pemilihan umum,” kata aktivis perdamaian Burma yang juga peneliti senior dari Uppsala University, Swedia, Dr  Lian Sakhong. Hal itu disampaikan Dr  Lian dalam diskusi panel tentang Diplomasi Warga dan Gerakan Nonkekerasan, Mencari Peran Sipil dalam Mencegah Konflik Baru yang dilaksanakan Fakultas Ushuluddin, di Asrama Haji Banda Aceh, Sabtu (22/10).

Dr Lian menyebutkan, pilkada merupakan satu wadah menuju transformasi kekuasaan dalam sebuah sistem pemerintah. Transformasi kekuasan ini, kata dia, hanya dapat bermakna jika dilakukan  dengan cara-cara yang damai dan demokratis sesuai dengan aturan yang ada.

“Demokrasi sangat penting untuk memberi kesempatan kepada semua orang memilih pemimpinnya. Tapi demokrasi yang baik adalah yang mematuhi aturan yang ada,” ungkap dia. Selain aktivis perdamaian di Burma, Dr  Lian juga seorang peraih Martin Luther King Price di Bidang HAM dan Etnis Minoritas, dan Wakil Pemimpin Dewan Nasional Etnis Burma.

Acara diskusi panel ini juga menghadirkan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar Raniry Dr H Syamsul Rijal, MAg, Mantan Rektor IAIN Ar Raniry, Prof Drs Yusny Saby PhD dan puluhan perserta lainya.

943750_659090190775186_1137499318_nDr  Lian menambahkan, peran kaum intelektual untuk menghindari jatuhnya korban di pihak sipil dalam kaitan pemilu sangat besar. Sebab, kaum intelektual dapat lebih diterima oleh semua kalangan dalam sebuah proses penyelesaian konflik.

“Peran sipil dalam menyelesaikan konflik sangat dibutuhkan,  pencerahan yang dilakukan oleh kaum intelektual dapat menghindari jatuhnya korban di pihak sipil,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar Raniry Dr Syamsul Rijal mengatakan, kelompok intelektual seharusnya lebih berperan dalam menjembatani kisruh politik akhir-akhir ini supaya masyarakat tidak gamang akibat situasi yang tidak jelas.

Disebutkan, kalangan sipil memiliki andil besar dalam menyelesaikan krisruh politik yang sedang melanda Aceh saat ini.

“Kalangan intelektual harus mengambil bagian untuk menghindari gejolak konflik, bukan mengurung diri dan ikut memperkeruh suasana yang dapat membawa preseden buruk,” katanya. (sar)

Sumber: TribunNews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here