serambiSejumlah organisasi massa (ormas) Islam mengapresiasi polisi atas keberhasilan menangkap seorang pendeta bersama tiga stafnya di Kota Juang Bireuen yang dilaporkan telah melakukan pembaptisan sejumlah warga Aceh (pemeluk Islam). Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Dr Syamsul Rijal MAg menyatakan, “memengaruhi orang yang telah beragama untuk memeluk sesuatu agama lain adalah perbuatan tercela dan termasuk sebagai prilaku penistaan agama.”

Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Aceh, Dr Muhammad Yasir Yusuf MA dalam siaran pers yang diterima Serambi, Jumat (21/6) menyatakan dukungana terhadap kinerja polisi di Bireuen yang bergerak cepat menangkap pembaptis. Yasir mengajak seluruh ulama, ustaz, dan para tokoh untuk berperan lebih baik dalam menjaga akidah umat Islam di Aceh dari gerakan-gerakan yang merusak warga.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Insyafuddin Aceh, Tgk H Daud Hasbi. Tgk Daud mengimbau seluruh ulama serius memikirkan persoalan yang terus berulang di Aceh.  Tanggapan juga disuarakan Ketua Departemen Riset Rabithah Thaliban Aceh (RTA) Teuku Zulkhairi MA. Menurutnya, keberhasilan polisi meringkus pembaptis membuktikan jajaran kepolisian di daerah ini sudah semakin komit mendukung dan menghormati penegakan syariat Islam di Aceh.

 Tercela
Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Dr Syamsul Rijal MAg kepada Serambi, Jumat (21/6) mengatakan, pihak kepolisian di Bireuen telah melakukan tindakan terpuji dan patut didukung oleh semua pihak demi tegaknya kestabilan dan ketenteraman masyarakat.

Syamsul mengatakan, beragama adalah sesuatu yang prinsipil di dalam hidup. Keyakinan seseorang beragama dan menjalankan agamanya haruslah dijunjung tinggi, karena nilai-nilai kehidupan esensial ada di sana.

“Memengaruhi orang yang telah beragama untuk memeluk sesuatu agama lain yang dianutnya adalah perbuatan tercela, dan termasuk sebagai prilaku penistaan agama,” katanya.  Selain itu, lanjut Syamsul, memengaruhi seseorang yang beragama untuk memeluk agama lain, bisa memicu ketidakstabilan di tengah- tengah kehidupan sosial. “Persoalan ini akan merembet kepada banyak faktor yang turut berpengaruh, baik dalam sektor keluarga, masyarakat maupun komunitas agama yang ditinggalkan,” katanya.

Syamsul menegaskan, “perbuatan membaptis seorang muslim dengan beragam bujuk rayu, baik langsung ataupun tidak langsung sebagai akibat kondisi sosial ekonomi yang diderita adalah penipuan dalam beragama dan tercela. Karena itu pelakunya harus diusut dan dihukum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.”(ari)

Sumber: Serambi News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here