natSetiap memperingati hari maulid nabi, lazimnya masyarakat Aceh mengadakan ceramah yang diisi oleh ustad-ustad. Namun, Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry tampil beda, malah menampilkan baca Hikayat Aceh yang berisikan nasihat dan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dekan Ushuluddin, Dr. Syamsul Rijal Sys. M.Ag mengatakan, acara yang Tak lazim itu juga sebagai bentuk melestarikan budaya Aceh yang kian tenggelam di tengah-tengah masyarakat Aceh.

“Kini kultur keacehan kita bawa ke kampus, jangan hanya pendidikan saja, meskipun kita sudah di kampus, harus sadar kultur” tukas Syamsul Rijal saat memberi sepatah dua kata pada acara peringati maulid Nabi Muhammad SAW, Rabu (10/4/2013).

Menurutnya, pesan-pesan agama tidak hanya bisa disampaikan melalui mimbar saja. Akan tetapi juga melahui hikayat-hikayat juga bisa disampaikan.

Pembacaan Hikayat Aceh sendiri diisi oleh penyair terkenal Aceh, Medya Hus dari Aceh TV dan timnya, Syeih Sofian Musa, dan Syeih Min Cakra. Selain mengisahkan cerita Nabi, dalam lantunan Hikayat Aceh tersebut juga banyak sindiran terhadap persoalan yang sedang berkembang saat ini.

Free sex yang sedang marak saat diminta pemerintah segera bisa menuntaskan. Apabila pemerintah tidak bisa menanggulanginya, dalam syair itu diminta turun dari jabatan.

Persoalan keseharian yang baru-baru ini terjadi juga tidak luput dari sindiran Medya Hus. Salah satunya kejadian langka di Bireuen saat khutbah Jumat mimbar dilarikan. Itu suatu bentuk betapa merosotnya moral masyarakat Aceh dewasa ini.

Acara maulid yang diselenggarakan Ushuluddin tersebut betul-betul mencerminkan budaya Aceh, dimana masih mentradisikan “bu kulah”. Terlaksananya acara tersebut berkat kerjasama antara dosen, karyawan, dan mahasiswa Ushuluddin. []

Sumber: TheGlobeJournal

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here