BANDA ACEH – Guru Besar UIN Ar Raniry Aceh Prof. DR. Syamsul Rijal, MA., menganggap perlunya peran pemerintah dalam hal pembagian daging hewan Qurban pada hari raya Idul Adha. Hal ini dianggap penting agar terwujud pemerataan pembagian dan konsumsi daging kepada masyarakat di berbagai wilayah.

Menurut Syamsul Rijal, saat ini animo dan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan qurban sudah sangat baik hingga terjadi peningkatan jumlah hewan qurban di berbagai desa di Aceh. Hal ini tidak lepas dari sistem penggalangan qurban yang diterapkan pada tiap desa, termasuk peran aktif panitia. Salahsatunya dengan metode arisan qurban atau Meuripee, dimana dana qurban dikutip setiap bulan hingga menjelang Idul Adha.

“Metode ini sangat memudahkan, sehingga setiap masyarakat berkesempatan untuk melaksanakan qurban, itu harus didukung dan di apresiasi,” ungkap Syamsul Rijal saat bersilaturahmi dengan Kanalinspirasi di sebuah warung kopi kawasan Beurawe Banda Aceh, Senin (12/8).

Namun persoalan yang kemudian muncul adalah saat di satu wilayah terjadi peningkatan jumlah hewan qurban, sementara di daerah lain yang masyarakatnya dari golongan ekonomi menengah ke bawah masih mengalami kekurangan hewan qurban. Biasanya dialami daerah pelosok Aceh yang mayoritas penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan.

“Masalah sekarang adalah belum adanya kesadaran distribusi hewan maupun daging qurban,” lanjut dosen Filsafat Islam ini.

Baca Juga : Qurban Menguatkan Karakter Muslim

Menurut Syamsul Rijal, disinilah perlunya peran pemerintah membuat sebuah pemetaan wilayah yang masih minim hewan qurban, sehingga tidak terjadi penumpukan atau “swasembada daging qurban” di daerah tertentu. Apalagi jika penduduk di daerah tersebut merupakan warga mampu yang sehari-hari dapat mengkonsumsi daging.

“Alangkah baiknya jika pemerintah bekerjasama dengan pihak gampong, agar berkenan menyalurkan sebagian hewan maupun daging qurban ke daerah yang penduduknya jarang mengkonsumsi daging,” saran Syamsul Rijal.

Baca Juga : Kurban itu Simbol Menyembelih Nafsu

Disamping itu, kata Syamsul Rijal, pemerintah sebuah gampong melalui panitia qurban bisa juga mendistribusikan sendiri daging qurban kepada fakir miskin dari luar gampong dengan kebijakan sendiri. Ia memisalkan, diawali dengan melakukan pendataan dilanjutkan pemberian kartu kepada calon penerima qurban yang dinilai berhak dan layak. Nantinya calon penerima qurban dapat mengambil jatah daging di gampong tersebut pada hari penyembelihan.

“Jika sebuah desa melaksanakan hal demikian, ini merupaka terobosan dan syiar yang harus dicontoh, jadi bukan Riya,” sebutnya.

Mantan Wakil Rektor UIN Ar Raniry ini juga memberikan apresiasi kepada beberapa lembaga sosial yang menggalang daging qurban, baik berupa hewan, daging kemasan kaleng hingga menggalang dana qurban, yang kemudian disalurkan kepada masyarakat pelosok Aceh yang masih minim hewan qurban.

“Kita sangat bahagia, jika daging qurban bukan hanya dinikmati oleh masyarakat yang sudah biasa makan daging, namun oleh fakir miskin, anak yatim bahkan mahasiswa merantau sekalipun, yang juga ingin merayakan hari raya Idul Adha dengan menikmati sepotong daging qurban,’’ ungkapnya.

Syamsul Rijal juga menyebut jika dilakukan pemetaan jumlah hewan qurban di kota seperti Banda Aceh, sudah sangat signifikan untuk memenuhi bahkan melebihi kebutuhan masyarakat.

“Semoga kota Banda Aceh bisa menjadi model pendisitribusian hewan maupun daging qurban ke daerah lain, khususnya di pedalaman Aceh yang masih minim hewan qurban,” harap Syamsul Rijal. (*)

___

Tulisan ini pernah dimuat di KanalInspirasi.com pada 12 Agustus 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here