DIALEKSIS.COM | Banda Aceh – Guru Besar Ilmu Filsafat Islam UIN Ar-Raniry sekaligus senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Prof Syamsul Rijal mengatakan, anak-anak muda yang eksis hari ini akan menjadi aktual di masa emas Indonesia dalam 15-20 tahun mendatang.

“Namun tanpa ada inovasi Anda akan tertinggal. Kalau Anda mau eksis, Anda harus di atas nilai rata-rata. Kalau orang rata-rata caranya begini, inisiasinya begini, kapasitasnya segini, Anda harus ada lebih siangen (seangin), maka Anda akan tampil,” katanya dalam sambutan acara pelantikan pengurus HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry di Aula Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, Minggu (10/1/2021).

Prof Syamsul berujar terutama para kader HMI yang dilantik dalam kesempatan tersebut. Pihaknya diminta untuk proaktif, mampu memunculkan ide-ide kreatif dan punya gagasan baru, minimal dalam ruang lingkup yang kecil seperti di Kota Banda Aceh.

“Misalnya saat ini terjadi pro kontra terhadap penerapan Qanun Lembaga Keuangan Syariah. Tidak salah misalnya komisariat ini melakukan kajian-kajian pembahasan, sehingga eksistensi Anda itu dirasakan. Harus memberikan kontribusi,” kata Prof Syamsul.

“Paling tidak bahwa Anggota HMI ini ambil bagian bagaimana memahami hadirnya lembaga keuangan syariah itu adalah meniadakan adanya peran praktik riba di tengah-tengah kehidupan ekonomi masyarakat. Walaupun ini sangat pro dan kontra. Inilah inovasi-inovasi yang harus Anda lakukan,” tambahnya.

Selain itu, Prof Syamsul juga mengingatkan saat ini betapa masifnya pedofilia, kekerasan seksual, dispritualisasi. Para kader diharapkan bisa menemukan jawaban dalam konteks amar ma’ruf nahi mungkar terkait hal ini.

“Cari pakarnya di UIN Ar-Raniry, USK, Unimal bahkan dari nasional. Saya bisa bantu merekomendasikan beberapa pakar nasional kalau memang mau memetakan persoalan-persoalan ini. Sekarang biayanya sangat ringan, pakai zoom meeting selesai,” ungkap Prof Syamsul.

“Jadi ke depan, HMI khususnya Komisariat Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry tidak hanya mewarisi tradisi, tetapi juga harus mampu melakukan inovasi-inovasi dan kontribusi. Itu yang sangat kita harapkan,” pungkasnya.

***

Tulisan ini dimuat di Dialeksis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here