Citizen Reporter : DR ABDUL WAHID, Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Kelantan, Malaysia

DALAM rangkaian kunjungan ilmiah (tour study) Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh ke Kelantan, pengalaman tsunami pun menjadi objek yang menarik bagi ilmuwan bidang ilmu geologi Universitas Malaysia Kelantan. Betapa tidak, selama ini mereka mengkaji dan meneliti segala hal yang berkaitan dengan geofisika di bawah Fakultas Ilmu Sains Kebumian (Faculty of Earth Science).

malaysiaSeminar itu dilaksanakan 30 Mei di Kampus Jeli UMK (Universitas Malaysia Kelantan) dengan tema “Natural Disasters: Experences In Malaysia and Indonesia”. Saya diminta menjadi salah seorang pemateri, memaparkan pengalaman pribadi terkait tsunami.

Pada sesi pagi setelah pembukaan, ditampilkan tiga keynote speaker, Prof Habibah dari Universitas Malaya, Dr Mohammad Nasir dari UMK, dan Dr H Syamsul Rijal, Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry.

Teori yang dipaparkan kedua pemateri, memberikan ilmu penting bagaimana tsunami terjadi. Pada paparan yang disampaikan Dr Syamsul Rijal berupa pengalaman pribadi ketika tsunami dibarengi dengan pendekatan agama tentang bagaimana memposisikan tsunami menjadi pelengkap kajian musibah dahsyat tsunami tersebut. Betapa tidak, dari pengalaman Pak Syamsul yang menyampaikan salah satu keajaiban ketika tsunami, yaitu tidak tersentuhnya masjid oleh musibah itu, para ahli ilmu tsunami pun merasa tak berdaya dengan teori-teori ilmiah yang mereka kemukakan.

Pada sesi siang, diskusi dibagi dua kelompok, karena cukup banyak makalah yang harus dipresentasikan. Di kelompok I tujuh pemateri menyampaikan pengalaman pribadinya terkait tsunami. Sedangkan di kelompok II disampaikan lima makalah.

Para peserta mengikutinya dengan tekun. Hampir semua pemaparan diikuti pertanyaan-pertanyaan yang menandakan antusiasnya peserta ingin tahu bagaimana pengalaman orang Aceh menghadapi tsunami pada 26 Desember 2004 lalu.

Pada sesi siang ini ditampilkan pemakalah yang memaparkan temuan-temuan seputar bumi yang meliputi berbagai gejala alam serta teori-teori pencegahan dari bencana tersebut. Ada juga makalah yang memaparkan bagaimana mengetahui gejala alam dengan bantuan satelit. Juga pemaparan tentang bagaimana mengetahui kandungan yang terdapat dalam air pada area tertentu.

Seminar ini unik dan mungkin belum pernah dilaksanakan sebelumnya. Keunikannya terletak pada pemateri, karena dipertemukan pemateri dengan materi ilmiah dengan pemateri berbasis pengalaman pribadi. Para pemateri yang memaparkan teori-teori geofisika tentu menggunakan metode ilmiah atau hasil riset mereka masing-masing. Sedangkan para pemateri yang berasal dari Aceh memaparkan pengalaman mereka dalam menghadapi tsunami.

Sebenarnya, menurut saya, seharusnya umat Islam memiliki kemampuan riset terhadap gejala alam, dengan tetap mengembalikannya kepada Tuhan sebagai Sang Maha Mengetahui dan Mahakuasa. Hal ini, pada satu sisi akan memberikan makna bahwa Islam itu tidak membeda-bedakan dan tidak memilah-milah antara ilmu agama dan ilmu umum. Banyak ayat Alquran membicarakan gejala-gejala alam yang tak mungkin dikaji dengan ilmu seadanya. Sebaliknya, sungguh sangat kering suatu ilmu tanpa diimbangi kesadaran spiritual.

Harapan kita, adanya perubahan kategori ilmu pengetahuan di Indonesia. Selama ini, di negeri kita berlaku dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Sejauh yang saya pahami, di Malaysia tidak demikian. Contohnya Universitas Kebangsaan Malaysia, selain memiliki Fakultas Pengkajian Islam, juga memiliki banyak fakultas lain, seperti Kedokteran, Pertanian, Pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan di Aceh, ada dua kampus yang berdampingan, yang satu mengurus urusan dunia (Unsyiah), yang satu lagi mengurus urusan akhirat (IAIN). Alangkah indahnya jika kedua lembaga ini digabung jadi satu, sehingga dari Aceh dipelopori penghapusan dikotomi keilmuan antara dunia dan akhirat.  [email penulis: abdulwahidbinarsyad@gmail.com]

Sumber: Serambi News

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here