Subulussalam, (Analisa). Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Drs H. Ibnu Sa’dan, M.Pd membuka acara pengembangan wawasan multi kultural antar pemuka agama di Aula Setdako Subulussalam, Senin (16/7).

Acara yang diprakarsai Kantor Kemenag Kota Subulussalam ini, diikuti 60 peserta terdiri dari tokoh/pemuka agama Islam, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes), perwakilan ormas Islam serta pemuka agama Kristen Protestan dan Khatolik.

Ibnu Sa’dan dalam arahannya menyatakan pentingnya menjaga hubungan dan berkomunikasi dengan baik untuk menghindari terjadinya konflik antar umat beragama. Benturan-benturan yang bisa menimbulkan konflik dapat ditekan jika komunikasi antar umat beragama lancar. Apalagi, Kota Subulussalam yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara penduduknya multi kultural.

“Subulussalam ini bisa dikatakan kota mini di Indonesia, tapi dihuni berbagai macam suku seperti Singkil, Jawa, Nias, Batak, Aceh, Padang, Karo, Pakpak dan lainnya,” kata Kakanwil.

Ditambahkan, tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Memeluk agama itu harus berdasarkan pilihan pribadi sendiri bukan karena adanya unsur paksaan atau ikut-ikutan. Sebab, dengan pilihan itu sang pengikut akan benar-benar mempertanggungjawabkan keyakinannya.

Dikatakan, perbedaan suku, agama atau bangsa akan membawa rahmat bagi semua manusia bila dijadikan sebagai potensi kuat dalam pembangun daerah menuju keselamatan.

Ibnu Sa’dan yang merupakan mantan Kakan Kemenag Kota Subulussalam, mengharapkan pemuka agama di daerah itu mampu mengayomi dan membina masyarakar agar terhindar dari konflik multi kultural antar umat beragama.

Pada bagian lain dikatakan, sebagai lembaga di Kementerian Agama, pihaknya hanya berwenang melakukan pembinaan sementara untuk urusan aqidah tidak bisa dicampuri.

Sementara Sekdako Subulussalam, Damhuri dalam sambutannya mengatakan, pihaknya sangat bersyukur kerukunan umat beragama dapat terwujudkan dengan baik meskipun Kota Subulussalam yang terdiri dari berbagai macam suku, di mana keragaman tersebut menjadi potensi dalam membangun kemaslahatan umat karena perbedaan itu justru mampu membangun sebuah peradaban.

Dialog antar pemuka agama tersebut menghadirkan narasumber Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh Dr H.Syamsul Rijal, M.Ag, Kakanwil Kemenag Aceh Drs Ibnu Sa’dan, M.Pd dan Baron Ferryon Pandiangan S.Ag.M.Th. (sdr)

 

Sumber: Analisa Daily

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here