DIALEKSIS.COM | Banda Aceh – International Day of Tolerance atau Hari Toleransi Internasional diperingati setiap tahun pada 16 November. Toleransi dalam konteks Aceh, Guru Besar Ilmu Filsafat Islam UIN Ar-Raniry, Prof Syamsul Rijal mengatakan, Aceh sejauh ini sudah membuktikan sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam namun memiliki kultur yang kuat terhadap toleransi.

“Kalau karakter keacehan, saya pikir masyarakat Aceh itu sangat toleran,” jelas Prof Syamsul Rijal saat dihubungi Dialeksis.com, Senin (16/11/2020).

“Toleransi itu kan bermuara pada keragaman budaya, agama etnis yang baik. Kalau ini yang menjadi subtansi sebuah kultur toleransi, saya pikir Aceh sudah membuktikan itu. Aceh bisa hidup berdampingan dengan semua agama, apalagi dalam konteks syariat. Dalam konteks budaya dan etnis juga demikian,” tambahnya.

Terkait beberapa hasil survei yang menempatkan Aceh di urutan terbawah dalam hal toleransi, Guru Besar UIN Ar-Raniry itu berujar perlu evaluasi dan diskusi terhadap hasil-hasil riset tersebut.

“Karena dalam survei atau riset, tidak boleh menggeneralisasi. Itu yang paling penting. Warga harus bersuara apabila mendapati kesimpulan yang tidak sesuai. Kemudian apakah ada kepentingan terselubung di sana atau tidak, karena ini semua kan harus diuji dulu,” jelas Prof Syamsul Rijal.

“Intinya apa yang dinginkan orang lain, kita juga menginginkannya. Itulah toleransi, dalam hal positif. Dan saya pikir Aceh akan punya karakteristik tersendiri dalam bersikap, berbudaya dan dalam menjalankan keyakinan beragama. Apa yang sudah ada saat ini sangat patut diacungi jempol dan terpuji,” pungkasnya.

Baca selengkapnya: https://dialeksis.com/aceh/hari-toleransi-internasional-prof-syamsul-rijal-aceh-sudah-membuktikan-itu/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here