BANDA ACEH – Penetapan Tari Saman Gayo sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco dinilai oleh Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr H Syamsul Rijal MAg sebagai bentuk pengakuan bahwa Aceh tidak hanya memberikan kontribusi untuk nasional tetapi juga dunia. “Pengakuan ini juga sebagai kado Tahun Baru Islam 1433 H,” kata Syamsul menanggapi penyerahan sertifikat Tari Saman Gayo sebagai warisan dunia oleh Unesco di Bali, Jumat (25/11) malam.

Tari Zaman / sumber gambar: sabangtourism.asia

Kepada Serambi, Sabtu (26/11), Syamsul mengatakan, tari saman sarat makna filosofis untuk dicerna bagi daya dorong, tidak hanya untuk menumbuhkan nilai seni budaya tetapi juga etos kerja (spirit) kehidupan sosial-keagamaan.

Syamsul juga mengulas makna jumlah personel tari saman yang ganjil. Ini, katanya, sarat nilai teologis, juga keseimbangan karena seorang yang duduk di tengah sebagai pimpinan kiri kanan dengan jumlah yang sama membentuk keseimbangan. “Ya, dinamika hidup membutuhkan keseimbangan,” ujar Syamsul yang juga dosen Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin.

Dari segi gerak, lanjut Syamsul, sangat dinamis dengan julukan gerakan tangan seribu. Perpaduan gerak dinamis menunjukkan nilai seni yang kreatif dan progresif menyiratkan pesan bahwa hidup adalah tantangan. Kesigapan gerak tanpa ada benturan karena di sana ada kearifan, tidak saling mendahului. “Ini memberikan isyarat bahwa dalam kehidupan politik dinamis juga tidak akan ada benturan bila ada kearifan,” ulasnya.

Tari saman juga mengajarkan betapa pentingnya penghormatan kepada pemimpin, bahkan mengajak massa taat pemimpin sebagai dilantunkan dalam bait-bait syair salam penghormatan.

Syamsul juga mengimbau, jangan hanya terkesima dengan gerak tarian tetapi diperlukan kecerdasan mengemas pesan moral dinamis kreatif yang disuguhkan bagi penontonnya. “Gerakan cepat dan tepat tidak berbenturan karena ada kearifan. Ya, kearifan diperlukan untuk menghindari benturan. Nilai-nilai ini yang perlu ditransformasikan di dalam kehidupan sehari-hari,” demikian Syamsul Rijal.

Seperti diberitakan, tari Saman Gayo bukan lagi warisan budaya Indonesia, melainkan telah menjadi warisan budaya dunia.

Penegasan itu disampaikan Fransisco Bandari, Wakil Direktur Bidang Kebudayaan Unesco, Badan Resmi PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan dalam acara Malam Seni Budaya Sidang Ke-6 Komite Antarpemerintah Unesco untuk perlindungan warisan budaya bukan benda di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/11) malam.(nas)

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2011/11/28/tari-saman-isyarat-politik-tanpa-benturan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *