Selamat Datang Bulan Agung

KITA bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, penghulu dari segala bulan. Setiap memasuki bulan agung ini, kita kerap mendengar ucapan “Marhaban ya Ramadhan”. Seorang teman, melalui pesan singkat bertanya kepada saya, apa arti ucapan itu? Pertanyaan ini membuat saya tertegun sekaligus tersenyum, karena ia membuka kembali wawasan serta daya ingat saya akan arti kalimat tersebut.

sumber gambar: webbyarts.com

Secara simple, Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang wahai bulan Ramadhan”. Kalimat ini berasal dari bahasa Arab, marhaban dari kata-kata rahb yang berarti lapang atau luas, sehingga marhaban menggambarkan tamu yang disambut dan diterima dengan penuh lapang dada dan kegembiraan. Juga marhaban diartikan ruang luas untuk kendaraan guna memperoleh perbaikan serta kebutuhan pengendara untuk melanjutkan perjalanan.

Sementara Ramadhan berasal dari ramdha, artinya membakar, yakni membakar dosa. Kehadiran Ramadhan adalah membakar dosa setiap orang yang beribadah di dalamnya. Oleh karena itu, penyebutan Marhaban ya Ramadhan adalah bentuk ekspresi kegembiraan karena hadirnya bulan Ramadhan, bulan pembakar dosa, bulan tempat terminal kemanusiaan menuju rida Allah swt.

Ramadhan adalah bulan ditunaikannya puasa yang menjadi kewajiban sebagai implementasi dari salah satu rukun Islam bagi setiap muslim yang beriman. Ramadhan bulan penuh keberkatan, bulan pengampunan. Disebut juga sayyid al-shuhur, karena bulan ini bulan yang memiliki keutamaan spesifik dari sebelas bulan lainnya.

Di bulan ini Alquran diturunkan, di bulan ini terdapat Lailat al-Qadr, dan di bulan ini juga segala ibadah dinilai setara lebih baik dilakukan dari seribu bulan lainnya di luar Ramadhan. Rasulullah saw menegaskan, “Sekiranya Anda mengetahui kandungan, hikmah, dan keutamaan beribadah di bulan Ramadhan, tentu Anda akan mendambakan agar semua bulan lainnya setara dengan keutamaan Ramadhan.”

Dari proses aktivitas puasa ini sesungguhnya banyak pelajaran yang dapat dipetik hikmahnya, antara lain, melatih mentalitas jujur, karena berpuasa diawasi langsung oleh pribadi seseorang dan oleh Allah swt. Melatih disiplin, melatih diri untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, dan kepedulian terhadap orang lain.

Imam al-Ghazali mengungkapkan bahwa puasa yang benar adalah puasa yang mampu mengekspresikan sifat ilahiyah ke dalam kehidupan sosial. Misalnya, memiliki rasa kasih dan sayang yang ditunjukkan dengan solidaritas sosial untuk peduli dan memberikan pertolongan serta bantuan material–termasuk ilmu pengetahuan–kepada orang lain. Demikian juga, kita berkemampuan mengekspresikan sifat malakiyah yaitu kemampuan menahan diri dan nafsu angkara murka.

Marilah dengan spirit Marhaban ya Ramadhan kita lakukan introspeksi dan mengamalkan secara maksimal segala bentuk amal ibadah di bulan Ramadhan. Demikian juga kita dituntut mengisi pengabdian terhadap agama, bangsa, dan negara dengan tetap memperbaiki citra, memperkokoh solidaritas dan perdamaian dalam bingkai syariat Islam secara kafah di Bumi Iskandar Muda. Marhaban ya Ramadhan, selamat datang wahai bulan agung!

oleh: Oleh Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag
Dekan Fakultas Ushuluddin
IAIN Ar-Raniry Banda Aceh

Sumber: Serambi Indonesia

 

Posted in: On Media

Leave a Comment