Renovasi Masjid Raya Momentum Strategis

BANDA ACEH – Wacana Pemerintah Aceh untuk merenovasi Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh mendapat tanggapan positif dari sejumlah kalangan, termasuk Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Dr H Syamsul Rijal MAg. “Renovasi masjid adalah momentum strategis penguasa untuk membangun spirit warganya guna meletakkan dasar kemanusiaan berlandaskan esensi agama,” kata Syamsul.

Syamsul mengatakan itu menanggapi pernyataan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah yang berencana merenovasi sejumlah fasilitas di Masjid Raya Baiturrahman demi kenyamanan para jamaah dan keindahan masjid tersebut. Di antara program renovasi yang akan dilakukan adalah pembangunan tempat wudhuk dan area parkir bawah tanah. Desainnya mengambil konsep keislaman dari Masjid Nabawi di Madinah.

Menurut Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol paripurna umat Islam. “Aceh adalah lintas masuk dan berkembangnya Islam ke Nusantara, sangat wajar di sini ada masjid kebanggaan yang mutakhir sebagai simbol syiar dinul Islam yang berjaya,” tandasnya.

Renovasi adalah bagian historik para penguasa dari masa ke masa. Syamsul mengambil contoh Baitullah dari dinasti kekalifahan mengalami renovasi signifikan sampai hari ini. Atas dasar ini upaya Pemerintah merenovasi Masjid Raya Baiturahman adalah sesuatu yang dapat meninggalkan citra sesuai semangat zaman membangun kultural kemanusiaan serta kultural arsitektur yang berkembang.

“Gagasan renovasi Masjid Raya Baiturrahman sangat aktual futuristik dan ditunggu masyarakat. Baiturrahman secara historik memiliki nilai spesifik untuk rakyat Aceh dan masjid ini simbol perjuangan, simbol peradaban, memiliki arsitektur menarik dan tersohor di Asia Tenggara. Melengkapi keberadaan Baiturrahman dengan kebutuhan terkini sesuatu yang bersifat penting dan bernilai,” ujarnya.

Syamsul Rijal juga mengingatkan tantangan pascarenovasi yaitu menjadikan Masjid Baiturrahman tidak hanya sebatas sebagai masjid kebanggaan rakyat Aceh namun menjadikannya sebagai pusat peradaban kultural dan pusat untuk membangun spirit serta konstruksi sosial budaya rakyat Aceh sesuai dengan spirit zaman yang dilalui. “Ini tentu saja perlu sentuhan semua komponen,” demikian Syamsul Rijal.(nas)

 

Sumber: Serambi News

 

 

Posted in: On Media

Leave a Comment