Puasa Solusi Krisis Identitas Spiritual

Oleh Syamsul Rijal

PUASA sebulan penuh di bulan Ramadhan adalah wajib bagi setiap muslim sesuai dengan syarat yang telah diperuntukkan. Proses puasa itu dapat mengantarkan kualitas jati diri manusia menjadi manusia yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183), yaitu manusia yang takut terhadap azab Allah, sehingga cerminan kehidupan manusia takwa itu berkepribadian mulia. Dari sisi lain, Rasulullah saw menegaskan bahwa “kebanyakan muslim tidak memperoleh hikmah dari prosedur puasa yang ditunaikan kecuali hanya sebatas menahan lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, sejatinya puasa menjadi solutif terhadap kebutuhan mendasar jati diri kemanusiaan yang bermakna secara individual juga memberi pengaruh secara sosial. Lalu, mengapa diperlukan sosok personalitas manusia yang takut (takwa) terhadap ujian (azab) dari Allah? Dalam doktrin ketakwaan itulah yang mencerminkannya manusia berkarakter bersifat antisipatif tidak sebatas untuk kepentingan kehidupan duniawi, tetapi juga berorientasi ukhrawi.

 Substansi puasa
Substansi puasa itu sebagai prosedur menahan diri dari tidak makan, minum dan berhubungan suami istri sejak terbit fajar sehingga terbenamnya matahari, adalah pekerjaan melatih diri dan mentalitas prima serta menyesuaikan kondisi fisik ketika berinteraksi dengan kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Di sinilah bagaimana sesungguhnya dan seharusnya ibadah puasa yang dilakukan seseorang itu dapat menempa kepribadian takwa dengan kemampuan untuk terhindar dari ujian yang diberikan Allah swt.

Kebanyakan manusia tanpa menyadari bahwa kehidupannya saat ini sedang berproses menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah. Ujian duniawi adalah ketika seseorang melanggar sunnatullah yang telah ditetapkan tentu akan memberikan dampak langsung bagi kehidupannya.  Misalnya, makanan dan minuman adalah kebutuhan dasar jasmaniah, namun ketika manusia berlebihan mengonsumsinya akan membawa pengaruh besar sehingga dalam kehidupan manusia modern cenderung untuk berlomba diet sebagai bagian mengatasi krisis jasmaniah. Hadirnya puasa sebagai salah satu slusi krisis itu.

Dalam realitasnya, manusia yang makan dan minum berlebihan dan atau secara normal pun dan terus menerus tanpa batas akan membawa dampak negatif terhadap anatomi perkembangan jasmaniahnya. Dengan puasa itu seseorang akan dapat mengatur dengan sistematis apa yang diperlukan dan seharusnya oleh anatomi jasmaniahnya.

Demikian juga prosedur puasa yang dilakoni seseorang itu pada dasarnya sebuah proses membentuk karakter kepribadian manusia mulia, yaitu manusia yang memiliki karakter peduli (sense of humanity) antarsesamanya. Dari karakter ketakwaan ini sejatinya manusia itu berproses sadar akan jati diri dan bahwa mereka itu tidak hidup sendiri serta memerlukan interaksi antarsatu dengan lainnya, sehingga diperlukan tatanan sosial kepedulian.

 Solusi kreatif
Atmosfir Ramadhan telah cukup mumpuni menjadikan solusi kreatif untuk mengatasi krisis kehidupan identitas jati diri kemanusiaan dalam makna yang esensial, kehidupan yang tergerus kepada situasi  bentuk dan pola dehumanisasi yang berproses di dalam kehidupan kekinian manusia maka puasa adalah solusinya.

Realitas kehidupan hari ini, kecenderungan materialistis (gemar dengan materi) mengabaikan spritualitas sehingga kecenderungan bersikap hedonis (segalanya diukur dengan materi) sehingga telah memicu kehidupan manusia yang berproses terhadap pengabaian nilai nilai kemanusiaan.

Manusia telah dihantui oleh desakan nafsu syahwatnya dengan keinginan yang harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kepatutan dan kewajaran yang bersifat fitri. Sehingga melahirkan kelompok yang kehilangan jadi diri fitrah insani sehingga manusia mengalami krisis spritual. Kedhaliman, kesewenangan, ketidakpedulian (mementingkan hidup individual, hilangnya sendi sendi sosial), pengabaian hak dan penghargaan kemanusiaan telah menjadi trend yang massive di tengah kehidupan sosial masyarakat terkini.

Oleh mana itu, kehadiran Ramadhan sangat patut disambut dengan suka cita sebagai ruang gerak untuk memperbaiki diri mengatasi krisis spiritualitas kemanusiaan itu sendiri. Semakin tinggi kesadaran religius keislaman seseorang ketika merespons substansi puasa tentu saja semakin besar peluang seseorang itu meraup identitas manusia taqwa sekaligus berdaya guna kehadirannya untuk mengatasi krisis spiritual kehidupan hari ini.

Ramadhan akan berlalu begitu saja, seseorang tidak memperoleh hikmah apa-apa, hanya menahan lapar dan dahaga, ketika dia gagal mentransformasikan nilai-nilai Ramadhan dalam karakter kepribadian sebagai sosok personalitas manusia takwa. Jangan lewatkan semua momentum strategis penambah ruang gerak amal memperbaiki citra diri manusia yang berkarakter takwa.

Semuanya itu akan diraih di bulan suci Ramadhan, bukan sebatas bulan yang melipatgandakan pahala amal ibadah (khairun min alfisyahrin), tetapi juga menambah ruang gerak kesadaran kemanusiaan, terciptanya manusia yang peduli, bukan manusia yang mengabaikan hak-hak antarsesama.

 Ujian terdekat
Bagi masyarakat Aceh, ujian terdekat adalah mampukah karakter ibadah yang dilakoni selama Ramadhan 1434 Hijriyah ini ke depan sebagai stimulus respons terhadap menyelesaikan persoalan kemanusiaan, misalnya, mempertahankan entitas damai dalam arti yang luas; meyelenggarakan pembangunan yang berkeadilan untuk kepentingan kemanusian di Aceh; mengurangi dan atau mengatasi persoalan mereka yang sedang didera musibah gempa bumi (tragedi Aceh Tengah, Bener Meriah dan sekitarnya).

Tentu saja, waktu yang akan memrosesnya, dan setiap individual dapat mempertanyakan fungsi serta identitas keberadaan dirinya; Apakah sudah hadir bagi kepentingan kemanusiaan? Jadikanlah bulan Ramadhan ini sebagai peluang memperbaiki diri dan hadirkanlah diri Anda sebagai solusi kreatif mengatasi krisis spiritual untuk kemanusiaan yang lebih baik. Wallahualam.

 

Dimuat di Serambi News

Posted in: Artikel

Leave a Comment