Perubahan Dahsyat dengan Berpuasa

Oleh Syamsul Rijal

PUASA, menahan diri dari sesuatu dalam batas waktu tertentu, telah mentradisi di sepanjang peradaban manusia. Semua itu dilakukan sebagai bagian perbaikan sikap serta keadaan. Ada orang harus berpuasa terhadap sesuatu di sepanjang kehidupannya, dan ada juga terbatas waktu tertentu, misalnya, dan ada juga terhadap prihal tertentu. Setelah kehadiran Rasulullah saw, puasa itu menjadi perintah agama dan wajib hukumnya bertujuan agar menjadikan pelakunya menjadi bertakwa.

Sebelumnya, puasa itu pernah dilakukan oleh umat sebelum Nabi Muhammad saw, dan berikut dengan kehadiran Islam yang beliau bawa ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan menjadi bagian integratif dari Rukun Islam yang keempat. Posisinya berada setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, menunaikan shalat dan kemudian dilengkapi dengan mengeluarkan zakat serta berhaji ke Baitullah bagi yang berkemampuan untuk itu.

Puasa sebagai ibadah bagi orang bijak tidak hanya dilihat sebagai sebuah kewajiban, tetapi juga sebagai sebuah kebutuhan di dalam kehidupannya. Puasa itu menyehatkan, substansi ini tidak terbantahkan. Dengan berpuasa yang baik dan benar sesuai anjuran Rasulullah akan menyebabkan pelakunya sehat, karena antara lain terjadi proses untuk menetralisir kolesterol jahat dan memaksimalkan kolesterol baik sehingga dapat dipastikan diminimalisir dari serangan jantung.

 Mengajarkan kejujuran
Puasa itu mengajarkan pelakunya bersikap jujur, dalam peraktiknya seorang yang berpuasa tentu dapat saja berbohong dari seorang yang lain. Namun, karena komitmen yang tertanam dalam pribadinya seseorang yang berpuasa tidak akan mungkin hanya menahan tidak makan dan tidak minum dari pengamatan orang lain, padahal ketika dalam ketesendiriannya semua dapat dilakukan. Tetapi seseorang itu punya komitmen dan yakin Allah memerhatikannya sehingga ia terpelihara dari itu.

Posisi ini adalah membentuk karakter kepribadian mereka yang berpuasa menjadi pribadi yang jujur. Kejujuran itu sangat diperlukan dalam mengisi dinamika kehidupan ini, karena itu transformasi nilai hikmah puasa itu antara lain adalah terpatrinya nilai kejujuran dalam pribadi orang yang berpuasa. Dengan demikian puasa itu mendatangkan perbaikan pelakunya, terutama mencerminkan sikap yang jujur. Dan, komunitas berpuasa berarti komunitas ynag memiliki komitmen kejujuran dalam kepribadiannya.

Puasa itu dapat mengantarkan pelakunya menjadi pribadi yang disiplin. Dalam melaksanakan ibadah puasa itu adalah perjuangan besar mengendalikan nafsu, disiplin dalam berpuasa akan memetik hikmah ibadah puasa itu sendiri. Rasulullah saw menggambarkan bahwa puasa itu lebih dahsyat dari pertempuran di Perang Badar, dengan sabdanya: “Kita kembali dari jihad kecil (Perang Badar) menuju kepada jihad besar, yaitu jihad al-nafs (perang mengendalikan nafsu).” (HR. Muslim)

Disiplin dalam konteks menunaikan ibadah puasa sesuai dengan prinsip ajaran Islam adalah menjadi penting diperhatikan. Berpuasa bukan hanya sebatas menahan diri dari makan, minum dan jimak di siang hari, melainkan coba mengaktifkan anggota tubuh seperti mata, telinga, lisan, tangan dan kaki pada jalan yang diridhaiNya.

Gunakanlah seluruh anggota tubuh yang anda miliki untuk memperbaiki amal ibadah sepanjang Ramadhan ini. Gerakan seluruh anggota tubuh untuk meningkatkan amal ibadah puasa yang dilakukan seseorang akan mencerminkan sikap disiplin dalam kepribadiannya. Semua anggota tubuh dikendalikan untuk prihal yang terpuji dan dihindarkan dari hal yang tercela membutuhkan kedisplinan. Mendisiplinkan ini akan membuahkan hasil yang baik bagi pelaku puasa menuju derajat takwa.

Puasa itu mengajarkan pelakunya akan kesadaran kemanusiaan yang tinggi, membangun kesetaraan antarsesama. Setiap mereka yang berpuasa menahan lapar dan dahaga dalam batas waktu tertentu, tentu saja dapat memetik hikmah betapa selama ini mereka yang kesulitan makan menjadi daya dorong bagi yang berpuasa untuk mendatangkan rasa peduli antarsesama. Kesadaran yang terbangun dari menahan lapar dan dahaga ini adalah terciptanya rasa empati antarsesama, sekaligus berkeinginan untuk memberikan bantuan untuk membebaskan derita lapar dan dahaga orang lain itu menjadi penting.

Ketika seseorang gagal mentransformasikan nilai dari makna puasa itu, maka ia telah gagal dalam beribadah, karena bagaimanapun juga ibadah puasa harus mencerminkan perubahan sikap bagi pelakunya. Hal itu dapat tercapai bagi mereka yang tulus melakukannya serta hanya mengharapkan ridhaNya. Ketika tidak seperti itu, beribadah tanpa memetik hikmah apa-apa dari ibadah puasa yang dilakukan berarti mereka masuk dalam kategori sebagaimana disebutkan Rasulullah dengan sabdanya: “Betapa banyak orang yang puasa, namun tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali hanya menahan lapar dan dahaga.” (HR. Muslim).

Sejatinya, ibadah puasa yang ditunaikan secara tepat dan benar akan membangun kohesi-sosial yang tinggi antar sesama. Hikmah ibadah puasa dapat membentuk rasa peduli antarsesama, serta merekatkan persaudaraan yang tinggi dan pada gilirannya akan membentuk situasi sosial saling membutuhkan dari nilai-nilai persaudaraan yang terbentuk dari bangunan kesadaran antarsesama dari nilai ibadah puasa yang dilakukan, ini adalah bentuk lain yang terbaik yang diraih oleh mereka yang berpuasa.

Puasa itu membangun harapan kehidupan duniawi yang baik serta kehidupan ukhrawi yang baik pula. Perilaku puasa pada dasarnya akan menggembleng pelakunya menjadi sosok personalitas yang terpuji, karena puasa itu sebuah bentuk proses pengendalian nafs agar terarah sesuai yang diredhaiNya.

Puasa dapat mendidik manusia menjadi sabar, taat, saling menghargai, mau merasakan penderitaan orang lain sekaligus memberikan solusinya, menahan diri dari perbuatan tercela, misalnya berbohong, mencerca orang lain, menyebarkan fitnah, berbuat diskriminatif, menzalimi orang lain dan lainnya dari segala prilaku tercela tentu akan terhindar dari mereka yang berpuasa.

 Pribadi terpuji
Puasa yang mengantarkan pelakunya menjadi pribadi yang terpuji dan terhindar dari prilaku tercela adalah modal besar dalam membangun harapan kehidupan duniawi yang lebih baik, kehidupan yang lebih bermanfaat, kehidupan yang lebih serasi. Jalan kehidupan seperti ini pada esensinya tentu akan mengantarkan kehidupan ukhrawi yang baik pula. Bukankah setiap kepribadian terpuji yang dimiliki seseorang dan jauh dari sifat tercela itu merupakan cerminan manusia yang takwa dan manusia yang takwa kehidupan duniawi dan ukhrawinya adalah baik.

Problem umum yang dialami oleh mereka yang berpuasa adalah menjadikan ibadah puasa itu sebagai bentuk rutinitas tanpa mau merenungkan hikmah yang terkandung di dalam proses ibadah puasa itu sendiri. Hanya mereka yang menunaikan ibadah puasa sekaligus berupaya untuk memahami nilai-nilai hikmah dalam beribadahlah yang akan dapat merasakan betapa dahsyatnya transformasi nilai ibadah itu dalam kepribadiannya, yaitu substansi ibadah yang emoh memberikan perbaikan karakter kepribadian pelakunya.

Ini adalah isyarat bagaimana prosedur ibadah puasa yang dilakukan seseorang itu diberikan gambaran menuju manusia muttaqin namun dalam konteks la’allakum (mudah-mudahan kamu) bertakwa artinya kedekatan ketakwaan itu sangat ditentukan akan maksimalisasi ibadah, serta bagaimana seseorang itu mampu memetik nilai hikmah dari ibadah yang dilakukan.

Dalam konteks ini juga tentu, semakin tinggi ilmu yang dimiliki seseorang sekaligus diterapkannya di dalam memaknai hikmah ibadah yang dilakukan tentu derajat takwa yang terpatri dalam kepribadiannya itu semakin konkret, dan inilah sifatnya puasa itu sebagai bentuk ibadah yang memperbaiki pelakunya ke arah yang lebih baik, pribadi yang sangat diperlukan, yaitu pribadi yang bermanfaat untuk semua.

Melihat nilai substansial dari amal ibadah puasa, tentu saja, secara esensial akan membentuk karekter pelakunya menjadi pribadi kreatif dan mulia. Pada posisi ini telah menunjukkan bahwa puasa itu sangat menentukan untuk perbaikan pribadi pelakunya. Artinya, semakin dalam kekhusyukan seseorang dalam berpuasa serta semakin cermat memetik hikmah dari ibadah puasa, tentu semakin besar peluang seseorang itu dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya. Semoga!

* Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag., Dosen Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

 

Tulisan ini dimuat di http://aceh.tribunnews.com/2014/07/04/perubahan-dahsyat-dengan-berpuasa

Posted in: Makalah

Leave a Comment