Pemahaman Dalam Konteks Islam dan Syariah

OLEH : DR.Syamsul Rijal, M.Ag

 

946887_542123932505712_202942563_nIslam dalam konstruksi sosial harus mampu memenuhi tuntutan kehidupan manusia dalam arti luas, yaitu kehidupan untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi secara relevan. Karena itu, Islam, dalam konteks kajian sejatinya dipahami sebagai instrumen di dalam pemaknaannya dapat mengantar kehidupan seseorang kepada keselamatan hidup dunia dan akhirat.

Merujuk kepada makna akar kata, Islam ia diartikan selamat. Dalam perspektif ini pula siapa yang memiliki komitmen teguh terhadap keislamannya berarti dia telah menyediakan dirinya untuk berada pada posisi kehidupan selamat di dunia dan selamat di akhirat.

Wali atas konstruksi sosial Islam dalam dinamika kehidupan rakyat Aceh, tentu saja bersinergi dengan bagaimana pemaknaan terhadap arti penting dari ketauladanan Muhammad Saw sebagai pengemban risalah Islam itu sendiri adalah untuk mengimplementasikan nilai-nilai dasar tersebut di dalam kehidupan kemanusiaan.

Secara spesifik aplikasi nilai dinul Islam akan terus berproses dalam dinamika kehidupan konstruksi sosial. Kemudian secara komprehensif syariat islam tidak hanya dilihat dalam kontek induvidual dan sosial. Pemerintah harus membuat aturan yang rill,karena kalau tidak ada aturan yang rill yang menopang aplikasi syariah, tentu tidak bisa mengambil sikap untuk memajukan atau membangun syriat sebagai spirit dinul Islam itu sendiri.

Dalam konteks ini untuk mengentaskan aplikasi syariah kebijakan pemerintah aceh adalah benar-benar berbuat satu peraturan yang memang harus bisa dipatuhi oleh kalangan masyarakat aceh secara luas dengan segala bentuk proses sosialnya.

Salah satu instrumen yang perlu diperhatikan adalah menciptakan budaya, tatanan ekonomi masyarakat berbasis syar’i dan pemimpin terdepan dalam mengajak rakyatnya menuju dinamika keislaman dalam dalam semua bidang kehidupan.

Realitas sosial yang terlihat masih diperlukan kesadaran semua komponen untuk sosialisasi terhadap masyarakat dalam perkembangan syariat yang berlaku di aceh, sehingga mengambil tidakan syariat berlaku sama di semua strata kehidupan masyarakat tanpa memilah statu sosialnya.

kebijakan memihak dalam menerapkan nilai syariat, maka masyarakat akan menilai, peraturan yang dibuat hanya untuk masyarakat biasa aja, tidak ada yang harus di taati karana satu sisi status sosial lainnya dalam pemerintahan tidak tersentuh atau hadir menaati apalagi masyarakat biasa.

Dalam dinamika sosial politik terkini, diperlukan suasana yang kondusif untuk saling memberikan penghargaan sesama umat, jangan ada dalam kontek politisi saling menghina dan mendeskrditkan antar sesama untuk kepentingan sesaat itu semua hal yang tidak wajar dilakukan. Politik tidak seharusnya mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan politik sesaat jdalam politik.

Dalam arti luas, harapannya antar politisi dapat membangun komunikasi yang baik, jangan ada saling menjelek-jelekkan sesamanya, dan berorasi merendahkan antar pihak untuk raih tujuan, bagaimanapun mengajukan konsep ideal serta elitis akan dapat dinilai oleh rakyat sekaligus pembelajaran politik yang baik bagi warga. Itulah pertanda adanya kebijakan saling menghargai yang diperlukan berlandaskan spirit syar’i.

|PENULIS ADALAH DEKAN FAKULTAS USULUDDIN UIN AR RANIRY

Tulisan ini dimuat di AJNN.net

Posted in: Artikel

Leave a Comment