Menyoal Siapakah Tauladan

Muslim yang beriman berkeyakinan bahwa Muhammad Saw adalah Rasulullah dan juga  memahami bahwa beliau adalah suri tauladan untuk kita semua. Akan halnya dalam kenyataan sehari-hari terdapat tantangan sudah maksimalkah seseorang meniti kehidupan ini menjadikan Rasulullah Saw sebagai suri tauladan. Konsekuensi sikap seperti ini pada dasarnya akan melahirkan   sosok personalitas sebagai pengemban amanah pelanjut al-Risalah al-Nubuwwah. Rasulullah Saw, dialah yang al-Amin, jujur dalam berdagang, arief serta bijak dalam mengambil keputusan, mangayomi serta menyayangi yang lemah, memberi contoh   yang baik dan santun dalam persahabatan untuk semua,  memiliki sikap tegas dan berwibawa, kehidupan penuh pengabdian, kesabaran luas dan dinamis, serta memiliki sifat terpuji lainnya.

Dalam konteks kehidupan kekinian serta dalam tantangan modernitas, sikap-sikap tersebut adalah amat urgen menjadi atensi seksama di antara kita yang ingin bergelut menuju sukses. Sikap hedonistik serta meterialistik  telah tidak lagi relevan bagi mereka yang memiliki hati kebenaran setiap saat ”menjerit” menggapai nilai-nilai spritualitas dalam penghambaan diri kepada Allah menuju keredhaanNya. Prinsip ini terwujud bagi mereka yang memiliki akhlak mulia.

Ajaran yang dibawa Rasul tidak untuk kita teraleanasi dari kehidupan duniawi, justeru keberadaan kita di dunia harus menjadi bagian dari dunia itu sendiri. Akan tetapi, konstekstualisasi kehidupan duniawi tidak juga untuk kita melupakan nilai-nilai kehidupan yang hakiki tidak ada lagi kehidupan setelah tibanya masa kehidupan itu. Apa yang dikerjakan saat ini (kehidupan duniawi) adalah cerminan dan atau barometer terhadap esensi kehidupan kelak (ukhrawi). Nilai interkoneksitas antara duniawi dan ukhrawi tidak bisa diabaikan begitu saja terlebih lagi di sanubari mereka yang memiliki keimanan yang kokoh.

Pernahkah kita berpikir, bahwa keberhasilan itu bukanlah seseorang itu piawai  meyakinkan orang lain dengan mengabaikan sikap pribadi yang memiliki trust, bukanlah sebuah kemampuan memutarbalikkan fakta untuk meraup keuntungan sehingga mengabaikan nilai-nilai kejujuran, bukanlah menurutkan selera nafsu dan mengedepankan sikap ananiyah (egois) sehingga mengabaikan sikap arif bijaksana, bukanlah bersikap kasar serta angkuh  sehingga mengaburkan nila-nilai persahabatan, bukanlah hidup mekanik tanpa tujuan yang diredhaiNya, bukanlah terpaku kepada realitas tanpa ada upaya perubahan.

Mengamati dalam konteks kehidupan keseharian kita, betapa banyak diantara kita bahwa penauladanan Rasul masih berada dalam tahap keimanan belaka tanpa bermaksud implementatif dari inti al-Risalah al-Nubuwah yang beliau emban. Kondisi ini terbukti banyak diantara umat hadir dengan seksama pada peringatan hari kelahiran beliau (maulid nabi) namun sedikit diantara mereka yang secara konprehensif mengamalkan ajaran yang beliau wariskan kepada kita. Fenomena seperti ini tidak hanya sebatas itu saja,  juga telah merambat kepada sosok personalitas yang menjadi panutan seremonial bukan mencotoh pada tataran idiologikal yang diwariskan. Rasulullah telah lama wafat dan perjuangan beliau diwarisi oleh Ulama.

Nusantara yang memiliki Ulama besar, sebut saja Syekh Abd Rauf Syiah Kuala, Hamzah Fansuri, Abuya Mudawali al-Khalidi Abd Samad al-Palimbani, Abd. Rahman Wahid dan lainnya menjadi kecintaan idola masyarakat dan secara serimonial berduyun-duyun menziarahi kuburan mereka namun sedikit diantara mereka yang berpikir mendalami ajaran yang dibawa apalagi untuk diimplementasikan ditengah-tengah masyarakat kita. Melihat kenyataan ini, bukan tidak mungkin sosok personalitas yang menjadi tauladan berada ditengah-tengah kita hanya bertsifat simbolistik semata tidak sampai ke tarap panutan idiologikal dari yang ditauladani. Misalnya, kebanyakan kita mengakui kehadiran pemimpin sebagai tauladan hanya sebatas serimonial dihadapan mereka kita taat dan patuh, untuk selanjutnya kepatuhan serta ketaatan itu tidak terefleksi sampai ke dalam pengamalan nilai-nilai yang diwariskan oleh pemimpin yang kita tauladani. Padahal konsep taat  kepada Allah dan rasulNya diikuti juga taat kepada pemimpin yang taat kepada Allah dan RasulNya.

Sampai disini kita terjebak dalam sebuah krisis spritualitas yang meluas sehingga akhirnya seseorang akan terserabut ke dalam proses dehumanisasi kehidupan. Ataukah kondisi ini sebuah isyarat bahwa tauladan kita telah mengalami distorsi ketauladan terhadap Rasulullah? Sehingga umat mengabaikan ketauladanan terhadap sosok personalitas yang didambakannya? Demikian juga sederetan tanda tanya disanubari kita dan ini suatu pertanda kita telah berada dalam situasi krisis paling tidak nurani kita berada dalam tataran memiliki sikap krisis terhadap fenomena yang ada. Kondisi ini mengharuskan kita untuk terus berbenah diri agar kehidupan nyata ini berjalan di dalam keredhaanNya.  Sosok personalitas sebagai tokoh  yang menjadi panutan dibutuhkan kehadirannya ditengah-tengah masyarakat. Mendasari pemikiran serta fenomena ini, menunjukkan bahwa sosok persoanlitas panutan umat adalah mereka yang mewarisi ketauladan dari Rasulullah, dalam segala lini kehidupan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

Postingan ini juga dapat di baca disini

Posted in: Artikel

Leave a Comment