Membumikan sikap Ihsan

Orang yang baik dan berkepribadian mulia adalah mereka yang  memulai dan mengakhiri hari hari kehidupannya sarat dengan muatan nilai ibadah, nilai ibadah terintegrasi pada semua aktifitas kehidupan. Dalam perepektif Islam, cerminan sikap hidup itu teraktualisasi pada sikap ihsan dalam beribadah, ihsan (berbuat baik), merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat buruk), yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf dan menahan diri dari dosa.

Dalam konteks memperhambakan diri kepada Tuhan, ihsan dijelaskan oleh Rasulullah SAW tergambar dalam jawaban beliau terhadap pertanyaan malaikai Jibril “Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim).

Pemaknaan terhadap ihsan mengacu kepada dua hal, pertama; ihsan dalam hubungan vertikal (beribadah) kepada Allah dan kedua; ihsan dalam membangun integritas akhalakul karimah antar sesama makhluk sebagai bentuk pemeliharaan hubungan horizontal. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya dalam arti merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam berinteraksi antar sesama makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Menunaikan hak dan kewajiban antara sesama merupakan cerminan mereka yang berbuat ihsan dimulai dari situasi yang terendah sampai kepada   derajat yang tertinggi. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah, yang bersifat wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam berinterkasi sosial (bermuamalah). Sementara yang bersifat sunat misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang.

Dalam konteks membangun hubungan vertikal kepada Allah senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam segala aktifitasnya akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan muraqabah. Tingkatan muraqabah berada pada seseorang yang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah melihatnya. Tingkatan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…” (QS. Yunus: 61). Pada derajat berikutnya seseorang itu akan sampai kepada derajat musyahadah dimana seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah melihat dzat Allah, namun melihat sifat-sifat-Nya, pengertian dengan memperhatikan sifat-sifat Allah adalah memperhatikan pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan.

Dalam konteks membangun hubungan horizontal antar sesama sangat diperlukan sikap kedewasaan, saling memberikan penghargaan, menempatkan kemuliaan seseorang tanpa pamrih, bukankah limadza latuhsinuna illa man ahsanakum, wala tuth’imuna illa man ath’amakum menjadi tolok ukur kesempurnaan muslim. Seseorang baru memulai berbuat baik kepada orang lain  karena ia pernah mendapatkan kebaikan orang lain   terhadap dirinya maka seseorang tersebut pada perinsipnya belum pernah berbuat baik kepada orang lain yang muncul dari kepribadian dirinya sendiri. Berprilaku baik (baca:ihsan) dalam seluruh aktifitas kehidupan sosial-keberagamaan, politik-budaya, adalah tuntutan kehidupan manusia paripurna, yaitu manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Mendasari pemaknaan tersebut sejatinya setiap muslim membumikan sikap  ihsan dalam kehidupannya baik dalam konteks membangun hubungan vertikal terhadap Allah maupun hubungan horizontal antar sesama. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An Nahl: 128). Allah telah menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang bertakwa kepada Allah, yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi segala yang haram. Kebersamaan Allah dalam ayat ini adalah kebersamaan yang sepesifik dalam bentuk ma’unah serta support kepada petunjuk jalan yang lurus yang diperlukan dalam kehidupan manusia muttaqien.

Implementasi (baca:membumikan) dari sikap ihsan di dalam kehidupan sehari-hari adalah semakin penting apalagi dalam konteks membangun integritas akhlakul karimah. Sikap  ihsan ini harus berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekiranya seseorang beramal dalam kataatan adalah berorientasi kepada mengharapkan keredhaan Allah. Sebaliknya jika terbesit niat di hati seseorang untuk berbuat keburukan, maka dia tidak mengerjakannya karena sikap ihsan telah membentengi kepribadiannya. Seseorang yang sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha mengharapkan keredhaan Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya. Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu mereka yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun diantara kita, apa pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan menjadi cerminan dalam seluruh amal salehnya.  Semoga kita semua dapat mewujudkan ihsan dalam diri kita, sebelum Allah mengambil ruh ini dari jasad kita. Tulisan ini dapat juga dilihat di www.syamsulrijal.com Wallahu a’lam bi al shawab wahuwa musta’an.

Posted in: Artikel

Leave a Comment