Kurban itu Simbol Menyembelih Nafsu

HARI Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1434 telah berlalu, Jumat ini adalah hari terakhir tasyrik, hari di mana umat Islam masih diharamkan berpuasa, namun ada kesempatan menyembelih hewan kurban untuk mereka yang baru mendapat kelapangan, kesempatan, dan kemampuan di hari ketiga tasyrik.

Di antara kita, tentu menjadi bagian yang menyaksikan prosesi penyembelihan kurban itu sendiri atau bahkan menjadi shahibul qurban (orang-orang yang berkurban). Pelajaran penting apakah yang  dapat dipetik dari simbolisme pelaksanaan penyembelihan kurban, apa yang diharapkan dari ibadah kurban untuk kehidupan berikutnya di luar bulan Dzulihijjah?

Mihrab edisi Jumat ini, mengulas hikmah kurban yang dapat dijadikan barometer kehidupan umat Islam yang lebih baik. Salah satunya, sebagaimana dikatakan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Dr Syamsul Rijal, M.Ag, ibadah kurban merupakan simbol penyembelihan nafsu sehingga manusia diharapkan menjadi pribadi yang humanis.

“Bagi mereka yang berqurban tentu menambah nilai spiritual, memiliki pribadi humanis sadar dan peduli kepada lainnya,” katanya, Kamis (17/10) kemarin.

Menurutnya, kurban bukan sebatas menyembelih namun bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang tidak berkurban dan menerima pembagian daging kurban sejatinya terinspirasi dan memiliki keinginan dan meronta mengharap rezeki dari Allah SWT sehingga ke depan mereka juga menjadi bagian dari orang-orang yang berkurban.

Pelajaran itulah, menurut Syamsul Rijal yang sesungguhnya diharapkan dari ritual tahunan Idul Adha, termasuk juga pelaksanaan ibadah haji.  “Bukan kurban yang riya dan gagal mengintegrasikan hikmah berkurban dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu, terkait momentum ibadah kurban, Humas Kanwil Kemenag Aceh, Ahyar Mag dalam komentarnya pada Cakrawala di Serambi FM 90,2 Mhz edisi 11 Oktober 2013 mengatakan, ibadah kurban itu sesungguhnya mengajari kita untuk menghilangkan sifat-sifat tidak terpuji. Seperti saling menjatuhkan sesama muslim, tidak berlaku baik terhadap sesama rekan kerja.

Menurutnya, Nabi Ibrahim banyak disebut di dalam Alquran, artinya ketika sering diulang berarti di situ ada sesuatu yang teramat penting, ada sesuatu yang sangat luar biasa. “Pelajaran apa saja yang bisa kita petik, tentu bukan seremoninya saja tetapi hal-hal substansial yang penting untuk kita ingat,” ujarnya.

Ia menyebut ada beberapa pesan kurban yang mesti menjadi acuan masyarakat muslim ke depan, termasuk di Aceh yaitu, Allah menyuruh kita berkurban tetapi jangan mengorbankan jiwa manusia. Artinya, bagaimana ke depan kita harus menyelamatkan jiwa sesama sebab membunuh itu sangat dilarang dan dimurkai Allah SWT.

“Di era modern, banyak sekali pembunuhan yang sistemik yang tidak hanya membunuh jiwa, tetapi membunuh karakter seseorang, menghancurkan karir seseorang, merendahkan, memfitnah, menjegal, meremehkan, dan menjual manusia,” katanya.  Inilah menurut Ahyar perkara yang mesti dihilangkan dari sifat-sifat manusia saat ini. (ari)

 

Sumber : Serambi Aceh

Posted in: On Media

Leave a Comment