Warga menggelar zikir dalam peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di kompleks lapangan mobil barang di Gampong Seuneubok, Meulaboh, Aceh Barat. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Warga menggelar zikir dalam peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di kompleks lapangan mobil barang di Gampong Seuneubok, Meulaboh, Aceh Barat. SERAMBI/DEDI ISKANDAR

SETIAP muslim, wajib menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam sebagai teladan dan ini sebuah keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Sehingga tidak ada lagi manifestasi akhlak-buruk dalam kehidupan bermasyarakat.

Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam diutus Allah untuk menyempurnakan perilaku mulia manusia. Sungguh, kelahiran dan diutusnya Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam adalah rahmat bagi alam semesta.

Nah, terkait Maulid, selama tiga bulan ke depan, umat Islam di Aceh akan sambung-menyambung menggelar khanduri maulid. Selain sebagai ekspresi rasa syukur atas kelahiran Nabi, substansi dari peringatan Maulid Nabi juga mengukuhkan komitmen loyalitas pada Rasulallah SAW atas setiap ajaran yang telah ia contohkan.

Adakah khanduri maulid yang sudah mengakar ini telah memenuhi harapan sebagaimana dicontohkan para pendahulu di Aceh? yakni menjadikan maulid sebagai pemersatu sekaligus belajar meneladani Rasulallah SAW. Tentu, semua berharap demikian, di mana tradisi maulid dapat mengubah perilaku muslimin menjadi lebih baik dengan mencontoh akhlak Nabi.

Pimpinan Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyah, Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Tgk Syukri Daud, Rabu (15/1) malam pada pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh, Kupi Luwak, mengatakan bahwa peringatan maulid harus membawa pengaruh bagi pembentukan pribadi muslim. Ia bahkan menyebut, hanya kesian-sian bagi muslimin yang melakukan khanduri maulid tetapi akhlaknya tidak berubah dan jauh dari teladan Rasulallah SAW.

“Maka sungguh akan sia-sia kenduri maulid yang kita laksanakan, jika peringatan maulid ini tidak membawa pengaruh untuk mengubah kepribadian,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Tgk Syukri Daud juga didiskusikan di media sosial. Beberapa pembaca serambinews.com, Kamis (16/1) malam berkomentar terkait tradisi maulid di Aceh. Pemilik akun facebook, Ita Zahara, misalnya mengabarkan bahwa di desa tempat menetap, tradisi maulid seperti sebuah keharusan adanya makan-makan besar yaitu khanduri. Ia menyayangkan ketika orang-orang sibuk maulid tetapi melupakan sesuatu yang wajib seperti shalat lima waktu. “Semua sibuk saat acara maulid tapi kegiatan harian ibadah lima waktu tidak jadi perhatian,” tulisya.

Komentar serupa juga ditulis oleh pembaca lain, rata-rata memberikan pengalaman dan saran bagi perbaikan kualitas ibadah umat terkait momentum maulid.

Kenapa hal demikian terjadi, di mana peringatan maulid tidak banyak berpengaruh kepada kepribadian seorang muslim saat ini. Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Dr Syamsul Rijal, MAg, yang ditanyai Serambi, Kamis kemarin mengatakan, peringatan Maulid Nabi tidak akan terasa berhikmah sepanjang umat gagal menginternalisasikan nilai kepribadian mulia Rasulallah SAW dalam berkehidupan dan membangun interkasi kehidupan sosial yang sarat tantangan modernitas.

Menurutnya, secara kultural ada beberapa hal penting yang dapat dipetik hikmah dari momen maulid di Aceh. Pertama, kata Syamsul Rijal, tradisi khanduri maulid sejatinya mampu mentransformasikan nilai ukhuwah dan kebersamaan yang tunggi divtengah berkehidupan keseharian. “Zikir maulid yang pada intinya sarat nilai dan pesan-eesan spirit kepribadin Rasulullah malah gagal dipahami oleh kebanyakan rakyat,” ujarnya.

Demikian juga dengan tablig akbar yang biasa diadakan setiap maulid. Menurut Dekan Ushuluddin ini, tabligh akbar yang lazim diadakan pada malam hari dalam kaitan maulid, sejauh ini masih gagal menyentuh serta menginspirasi warga untuk tampil menjadi sosok personal yang bermanfaat untuk diirnya dan orang lain.

“Saya pikir, upaya kongkrit yang sesungguhnya umat harus serius mentransformasikan nilai kepribadian Rasulullah sebagai suri teladan itu benar-benar realistik dalam kepribadian setiap orang,” katanya.

Syamsul Rijal berkesimpulan, umat Islam saat ini terkesan terjebak dengan rutinitas peringatan dan belum mencapai hikmah dari maulid itu sendiri. “Rasulullah sebagai teladan pribadi yang amanah, jujur, dan cerdas mengambil kebijakan. Ini seharusnya menjadi cerminan sikap hidup bagi setiap warga, apalagi bagi pemimpin yang mengemban amanah memimpin rakyatnya,” pungkasnya.

Tradisi maulid di Aceh, memang telah mengakar. Tentu semua berharap bahwa khanduri tiga bulan ke depan, yang lazim digelar masyarakat dapat memberi pencerahan terutama bagi terbentuknya akhlak seperti Rasulallah SAW. Jika tidak, maka sia-sialah khanduri maulid kita! (ari)

 

Sumber: Serambi News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *