Harus Ada Solusi Cepat Selamatkan Generasi Aceh

Laporan khusus yang diturunkan Serambi tentang fenomena kehidupan malam remaja dan anak baru gede (ABG) Aceh mendapat tanggapan serius berbagai kalangan.

“Hasil investigasi itu perlu dan sangat bernilai sebagai terminasi awal bagi yang berwenang mengambil tindakan solutif untuk mengembalikan ruh kultural generasi muda Aceh ke proporsi yang sebenarnya. Harus ada solusi cepat untuk menyelamatkan generasi Aceh dari kehancuran,” kata Wakil Rektor UIN Ar-Raniry, Dr Syamsul Rijal kepada Serambi, Selasa (25/3).

Menurut Syamsul, perilaku menyimpang itu sifatnya menyertai kehidupan kemanusiaan di mana saja dan dalam kondisi bagaimanapun sangat mudah ditemui apalagi ruh kehidupannya jauh dari nilai normativitas agama dan kultural. “Tentu saja banyak pihak kecewa, namun sebagai sebuah temuan investigatif walaupun tidak bersifat generalisasi namun ia bersifat indikatif untuk terminasi kebijakan apa yang harus dibijaki,” tandas Syamsul.

Syamsul menyerukan pemerintah atau pihak yang berwenang serius bertindak mengembalikan kuktural generasi muda Aceh kepada proporsi yang sesungguhnya yaitu kultur keacehan berbasis spirit syar’i. “Semua faktor yang dapat menggeser tata nilai budaya islami harus dibijaki untuk tadak dengan mudah berproses di kawasan Serambi Mekkah ini,” katanya.

Dunia pendidikan, lanjut Syamsul, harus introspeksi diri memberi solusi cerdas guna meminimalisir kultural generasi yang menyimpang itu. Yang tidak kalah pentingnya adalah atensi serius dari orang tua yang memiliki peran strategis untuk mengetahui dan bertanggung jawab memantau perkembangan serta tingkah laku putra-putri mereka. “Semua elemen harus simultan serta merenung akan hasil investigasi ini dan mengambil langkah bijak agar budaya positif menjadi pilihan generasi Aceh,” ujar Wakil Rektor UIN Ar-Raniry tersebut.

Dia juga menyerukan stop ekploitasi masa depan generasi muda Aceh yang berlindung di balik entitas kebebasan. Kebebasan menyesatkan yang sarat maksiat akan merusak kultur keacehan dan tidak boleh dibiarkan berproses. “Pemerintah, penegak hukum, ulama, guru/dosen, dan orang tua tidak boleh tinggal diam, meskipun saat ini Aceh kawasan ‘terbuka’ oleh akses informasi teknologi dan kebijakan berbalut kepentingan ekonomi. Semua itu tentu saja tidak seharusnya merusak tata nilai kultural keacehan itu sendiri,” demikian Syamsul Rijal.(nas)

 

Sumber: Serambi News

Posted in: On Media

Leave a Comment