Filsafat Ibnu Bajah tentang Metafisika dan Jiwa

Resume Filsafat Islam-II Kuliah tanggal 08/10/2012

Nama lengkapnya Abu Bakar ibn Muhammad ibn Yahya ibn al-Shaigh terkenal dengan sebutan ibnu Bajjah (Avenpace). Lahir di Saragosa, Spanyol abad ke 11 M sebagai dr di Senville dan sebagai wazir di Fez Marokko, wafat di sini pada tahun 1138 M. Karya tulis antara lain:
1.      Al-Tadbir al-Mutawahhid; kitab popular dan penting beirsikan persoalan akhlak dan kebijakan individu dan politik digunakan untuk antisipasi dari keburukan kehidupan.
2.      Risalat al-Wada” membahas metafisika tentang penggerak pertama yaitu Tuhan
3.      Risalat al-Iththishal menjelaskan tentang koneksitas antara manusia dengan al-aql al-fa’al.
Filsafat Metafisika
Pemikiran filsafat Ibnu Bajjah mengikuti filosof terdahulunya seperti al-Faraby, akan tetapi dia tidak terikat dengan konsep metafisik al-Faraby secara mendetail, karena itu dia menawarkan konsep spesifik  tentang apa yang dipahami dengan dunia metafisika.
1.      Menurut Ibnu Bajjah, bahwa segala sesuatu yang ada (almaujudaat) itu terpolarisasi kepada sesuatu yang bergerak dan prihal ini sifatnya terbatas karena al-Jism.
2.      Penggerak yang bersifat azali; dan Dia adalah sesuatu yang infinite karena al-Jism itu sifatnya terbatas maka dia haruslah digerakkan oleh sesuatu yang bersifat infinite dan gerak ini oleh Ibnu Bajjah disebut dengan al-aql.

Dalam persoalan ini gerakan alam semesta adalah sesuatu yang terbatas yang memerlukan kepada penggerak utama, yaitu  penggerak yang tidak  terbatas. Perlu diketahui bahwa penyebutan Allah di sisi filosof itu adalah al-aql itulah disebut sebagai Yang Maha Penggerak.

Filsafat Jiwa
Ibnu Bajjah berpandangan bahwa setiap manusia itu memiliki satu jiwa. Jiwa ini bersifat abadi dan tidak akan mengalami sesuatu perubahan sebagaimana halnya jasmani. Dan jiwa itu sentra bagi kehidupan manusia. Jiwalah sebagai penggerak jasad. Dan dia mensistematisasikan bahwa yang menggerakan jiwa itu adalah dua jenis alat, yaitu alat jasmani dan alat rohani. Karena itu Ibnu Bajjah membatasi konsep jiwanya pada tataran sebagai sesuatu jauhar rohani yang bersifat kekal setelah proses kematian. Dan jiwa inilah yang akan merasakan bahagia maupun sengsara di akhir pembalasan nantinya dan untuk menggerakan inilah jiwa terkoneksi dengan al-alq yang menyatu dengan al-aql al-fa’al dengan system metode ma’rifat falsafi. Konsepsi ini masih sejalan dengan al-Farabi maupun Ibn Sina, coba perhatikan materi yang lalu. (Syamsul Rijal).

Posted in: Makalah

Leave a Comment