Dialog Kuda dengan Tuannya di Negeri Pluralis

Tersebutlah, pada sebuah negeri memiliki pemimpin yang adil, rakyat yang menjalani kehidupan mereka dengan rukun, kehidupan sejahtera, ekonomi berjalan baik bahkan jadi tujuan wisata yang membentuk interaksi sosial yang menandakan kehidupan sosial yang pluralis penuh dengan kedamaian tidak hanya sebatas idealitas citra namun adalah kenyataan sehari hari yang dialami oleh rakyat. Rakyat yang terdiri dari beragam etnik dan keyakinan dapat hidup berdampingan, saling membantu, memerlukan, memberikan dibawah kearifan pemimpinnya.

sumber gambar istockphoto.com

Penguasa yang adil menciptakan suasana kehidupan rakyat santun berkeadaban, hampir tdk ada kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi. Tidak ada pertikaian, semua taat azas dan patuh kepada hukum, rakyat bekerja sesuai dengan kemampuan kerja yang mereka miliki. Infrasturuktur terpenuhi, jalan, pasilitas publik, plus pranata sosial yang mencukupi, sehingga tatanan sosial kemasyarakatan juga menjadi baik. Dengan kondisi ini tidak ada rakyat menganggur, masing masing mereka menggali potensi memanfaatkan sumber daya yang ada, hidup penuh kreatifitas, kehidupan toleran saling menghargai, tolong menolong antar sesama tanpa melihat etnik, ras juga keyakinan terpatri dalam keseharian rakyat. Negeri ini menjadi negeri transit menghubungkan lintas negeri lain, sehingga kondisi ini turut membentuk karakter rakyatnya. Ya tatanan rakyat yang pluralis dengan multikultural yang dinamis.

Ternyata keragaman rakyat, baik etnisitas, pekerjaan, keyakinan, serta strata sosial yang ada masih ada saja terdapat hal unik yang penuh hikmah. Misalnya, dialog seekor kuda dengan tuannya. Di Negeri pluralis itu, diantara rakyatnya ada yang mencari nafkah dengan menjalankan sado (pedati yang ditarik oleh kuda). Ketika itu, terjadilah dialog antara sais dengan kuda.

Sais dengan cekatan memberikan isyarat untuk melajukan sado(kendaraan)nya menelusuri jalan kota, masuk lorong ke luar lorong siang maupun malam. Di senja ketika matahari hendak bersembunyi di ufuk Barat, mereka melalui jalur yang cukup padat karena ramainya sebagian komunitas penduduk negeri pergi beribadah. Sesampai di depan rumah ibadah, kuda bertanya, apakah tuan tidak mampir disini, dengan sigap tuan menjawab bahwa ini khusus tempat beribadah mereka yang bernaung di bawah ajaran Sidartha Gautama. Ya sudah lanjut, kuda pun manggut manggut meneruskan perjalanan sesuai isyarat tuannya. Beberapa hari kemudian di pagi yang cerah, tuan sais tersenyum karena mendapatkan penumpang minta diantar pergi ke tempat ibadah. Mereka hendak menuju gereja, dimana banyak umat telah hadir. Sesampai ditempat penumpang turun. Kudapun bertanya tuan tidak mampir disini, dengan senyum tuan menjawab disini tempat Kristiani menjalankan ibadahnya, ayo lanjut, kuda pun menurut dengan patuh. Demikianlah kesehariannya sais memberikan isyarat jalan kepada kudanya dan kuda pun berfikir bahwa banyak sudah rumah ibadah yang dilalui namun sang tuan tdk pernah turun. Sedang berpikir kudapun mendengar panggilan merdu, oh mungkin ini baru tuannya akan berhenti. Nah ketika itu sampailah perjalanan mereka di depan Masjid ramai sudah umat datang memenuhi panggilan gema adzan Jumat. Ketika sampai dipintu mungkin diterpa terik matahari, kuda bergumam dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk istirahat. Eh ternyata tuannya tdk memberi isyarat untuk berhenti, kudapun penasaran dan bertanya, tuan itu suara apa dan mengapa ramai orang pada menuju arah datangnya suara. Tuannya menjawab itu kaum muslimin hendak menunaikan ibadah, yaitu salat Jumat. Maaf tuan terus tuan hendak beribadah juga disini, tuannya menjawab ayo lanjut perjalanan kita. Kudapun bingung terpikir di dalam hatinya semua rumah ibadah sudah dilalui tetapi tuannya tidak juga berhenti menunaikan ibadah. Tiba tiba kudapun berujar, kalau begitu tuan sama dengan saya yaaaa ………… ???xxzxddxzzf???!!!!

Ntah benar atau tidak kisah tersebut, yang jelas penganut suatu agama ketika tidak menjalankan ibadah ajaran agama yang mereka anut filosofinya bisa akan lebih rendah dari hewan. Ahh ada ada saja, tentu kita tidak termasuk seperti itu.

Posted in: Artikel

Leave a Comment