Cucu Adam Menangis di Arafah

Oleh Syamsul Rijal

PADA setiap 9 Dzulhijjah para cucu Adam (baca: Jamaah Haji) berhimpun, menangis di Arafah. Keberadaan mereka di sana terkait dengan aktivitas ibadah haji. Rasulullah saw menegaskan bahwa “berhaji itu (wukuf) adalah di arafah”. Mengapa cucu Adam sampai menagis dan ada apa di Arafah adalah perlu diketahui, bukan saja bagi mereka yang menunaikan ibadah haji, tetapi juga sangat layak diketahui oleh setiap muslim. Ibadah haji itu bagian integratif dari Rukun Islam yang lima, yaitu menunaikan ibadah haji, dan satu aktivitas berhaji itu adalah ibadah wukuf.

Area tempat kaum muslim wukuf dinamai dengan Arafah, manurut ulama ada kaitan historisnya. Penamaan tempat itu dengan Arafah dilandasi oleh argumen bahwa Malaikat Jibril bersama Adam as sedang diajarkan aktivitas manasik haji, saat itu Jibril bertanya arafta dan Ibrahim menjawab na’am. Nah, di padang luas itu Ibrahim as mendapatkan pengajaran konprehensif tentang manasik haji dan dari kalimat tanya Jibril itulah nama tempat di mana mereka belajar disebut dengan Arafah.

Di lain argumen, disebutkan juga ada juga pandangan lain, yang menyebutkan bahwa Hawa dan Adam as keduanya dipertemukan dan saling mengenal di tempat itu (lianna hawa wa adam ijtami’an fihi wata’arufa). Mereka berdua setelah memperoleh ganjaran dari Allah Swt dikeluarkan dari syurga, dijatuhkan ke planet bumi. Mereka sadar akan kesalahannya setelah dipertemukan di Jabal Rahmah.

Mereka ya’tarifunahum bidzunubihim, mereka sadar akan kesalahan dan dosa-dosa mereka, sekaligus memohon keampunan Allah Swt. Permohonan mereka ini mendapat respons dari Allah Swt dan diberikan kepada mereka berkah dan rahmat. Demikian juga tempat itu, yakni di Arafah.

 Memohon keampunan
Merujuk kepada akar historis dan normatif dari event inilah ulama  menegaskan bahwa satu aktivitas penting di Arafah itu adalah menyadari akan kesalahan dan dosa diri masing-masing betapa lemahnya tanpa mendapat keampunan Allah. Oleh karena itu aktivitas penting dimaksud menyadari kesalahan dan dosa, sekaligus memohon keampunan Allah, inilah aktivitas esensial di antara beragam aktivitas ibadah ketika wukuf di Arafah.

Kebanyakan mereka yang berhinpun di arafah, menyadari akan kesalahan dan dosa-dosa mereka membuat mereka menangis. Tangis dan penyesalan akan kesalahan dan dosa-dosa itu menjadi penting dalam memnyembuhkan spirit jiwa agar terpatri iman dan ta’abbud kepada Allah yang Maha Pengampun dan Penyanyang bagi setiap hambaNya.  Alangkah meruginya, ketika sosok pribadi berada di Arafah dalam konteks ibadah wukuf menyia-nyiakan peristiwa penting ini, yaitu menyadari kesalahan dan dosa serta memohon ridha serta keampunanNya.

Dalam konteks wukuf di Arafah, perlu diketahui bahwa hal terpenting itu aktifitas wuquf bagian dari aktivitas haji dan ulama berpandangan bahwa haji tidak akan ditemukan kesempurnaan   (validitas) ibadahnya tanpa dengan aktivitas wuquf. Sebegitu pentingnya ibadah wukuf itu, sehingga mereka yang dalam keadaan “sakit keras” pun harus disafari-wukufkan di sana, yaitu di bawa dengan ambulan meskipun dalam perawatan intensif kesehatan yang dideritanya.

Oleh karena itu, perlu dimaklumi juga bahwa ibadah wukuf itu  menjadi simbol dan puncak perjalanan proses ibadah haji, sehingga terkait dengan sabda tersebut al-haj arafata. Merujuk arti penting ini, maka ulama menegaskan bahwa untuk kesempurnaan ibadah wukuf di arafah ada beberapa prihal yang perlu diperhatikan, antara lain jamaah berada pada garis wilayah arafah sesuai dengan yang ditentukan dan tidak boleh meninggalkan Arafah selama wukuf dikerjakan.

Ada pun waktu wukuf itu sejak tergelincirnya matahari sampai terbenamnya matahari pada 9 Dzulhijjah. Aktivitas penting yang dilakukan dan menjadi bagian integratif dari ibadah wukuf adalah khutbah wukuf, shalat Dhuhur dan Ashar berjamaah, memperbanyak doa, menyadari akan kesalahan dan dosa-dosa seraya memohon keampunan Allah swt melalui doa yang dipanjatkan. Selain itu, memperbanyak zikir, membaca Alquran, bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Gema ibadah yang ditunaikan secara tulus dan ikhlas telah pasti meraut sanubari insani menjadi sosok yang ikhlas. Memandang bagaimana manusia dihimpun di padang Mahsyar sebagai gambarannya adalah bagaimana cucu Adam berhimnpun di Arafah. Di samping itu,  hati terpaut secara tulus dengan aktivitas tersebut, dan mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya ketika berdoa tanpa melampaui batas kepalanya.

Prihal berdoa merendahkan suaranya, penuh khusyu’ serta tawadhu’ dan mengharapkan ridha Allah Swt. Sebegitu pentingnya arti wukuf di Arafah sebagai bagian dari Rukun Haji, adalah sangat merugikan bila seseorang berada di Arafah pada 9 Dzulhijjah adalah waktu dan tempat mulia bagi hamba Allah yang wukuf di sana. Semuanya menelusuri akan perilaku, kesalahan dosa dengan menyesali dan memohon keampunan Allah Swt.

Adalah sangat bersahaja untuk memaknai segala gerak langkah ibadah tersebut, sehingga dapat mengantarkan kesadaran insani dalam asa ridhaNya. Juga, akan mengantarkan pribadi yang kreatif dan bangkit dari memaknai dosa menjadi manusia terampuni dan berada pada posisi ibadah haji yang diterima Allah Swt dalam konteks menuju kualitas haji yang mabrur.

 Puasa Arafah
Prihal itu adalah khusus bagi cucu adam yang berada di sana. Nah bagaiman dengan kita (cucu Adam) yang tidak berada di Arafah pada 9 Dzulhijjah tersebut? Rasulullah mentradisikan kepada kita untuk melakukan puasa Arafah. Ya, puasa sunat pada 9 Dzulhijjah dinamai dengan puasa Arafah. Ulama juga menegaskan disunatkan puasa sehari sebelum waktu wukuf tersebut yang disebut dengan puasa sunat tarwiyah.

Tentu saja, ibadah puasa sunat ini berharap menggiring kita kepada kesadaran esensial bahwa kita hambaNya berharap ampunanNya dan juga hendaknya terbangun untuk pada Idul Adha, berkenan menyembelih hewan kurban. Jangan tangisi hewan yang disembelih, karena anda tidak memperoleh apapun dari darah yang mengalir dan daging hewan sembelihan, kecuali anda memperoleh nilai ketakwaan dari ibadah yang kita tunaikan.

Nah, bagaimana kita, ya mengapa tidak, tidak berkesempatan wukuf di Arafah, tentu dapat tunaikan puasa sunat, sekaligus berhasrat untuk sembelih hewan kurban. Yang jelas, itu ibadah berhikmah. Wallahu a’lam bi alshawwab.

 

Tulisan ini dimuat di Serambi Indonesia, 4 Oktober 2014

Posted in: Artikel

Leave a Comment