Berhaji Itu Wukuf Di Arafah

Oleh : Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag

Allah SWT berfirman “…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, barangsiapa yangt mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah SWT Maha Kaya dari sekalian alam semesta” . (Q.S. ali ‘Imran/3: 97). Rasulullah SAW bersabda “Berhaji adalah (wuquf) di Arafah, barangsiapa yang menemukan arafah, maka dia telah menemukan haji”(HR. Bukhari).

Sumber : PascaDunia.com

Berhaji  ke Baitullah adalah salah satu dari rukun Islam, menunaikan haji hukumnya wajib bagi mereka yang memiliki kemampuan. Pandangan  yang bijak menyebutkan, bahwa mampu disini tidak hanya sebatas mampu secara finansial, tetapi juga isthitha’ah secara phisik dan memiliki kemampuan ilmu, karena bagi mereka yang memiliki ilmu yang cukup akan mengtetahui di tempat mana di waktu kapan dan harus membacakan doa apa dari safari hajinya, sehingga tidak ada yang tersisa dari penelusuran hikmah ibadah yang dilakukan.

Dalam konteks wuquf di arafah, prihal itu merupakan rukun haji dan Ulama berpandangan bahwa haji tidak akan ditemukan kesempurnaan   (validitas) ibadahnya tanpa dengan aktifitas wuquf. Sebenarnya yang menjadi simbol dan puncak perjalanan proses ibadah haji itu ada pada aktifitas wuquf di arafah. untuk kesempurnaan ibadah wuquf di arafah ada   beberapa prihal yang perlu diperhatikan, antara lain jamaah berada pada garis wilayah arafah sesuai dengan yang ditentukan dan tidak boleh meninggalkan arafah selama wuquf dikerjakan.
Diselenggarakan khutbah wuquf, shalat dhuhur dan ashar berjamaah, memperbanyak doa, menyadari akan kesalahan dan dosa dosa seraya memohon keampunan Allah swt melalui doa yang dipanjatkan. Selain itu, memperbanyak dzikir, membaca al-Quran, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, hati terpaut secara tulus dengan aktifitas tersebut, dan mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya ketika berdoa tanpa melampaui batas kepalanya. Prihal berdoa merendahkan suaranya, penuh khusyuk serta tawadhuk dan mengharapkan ridha Allah SWT.  Sebegitu pentingnya arti wuquf di arafah sebagai bagian dari rukun haji, adalah sangat merugikan bila seseorang berada di arafah pada 09 Dzulhijjah  adalah waktu dan tempat mulia bagi hamba Allah yang wuquf di sana. Semuanya menelusuri akan prilaku, kesalahan dosa dengan menyesali dan memohon keampunan Allah SWT.
Keadaan ini sangat krusial dan penting dan tidak boleh diabaikan para jamaah. Misalnya, hari ini seseorang berada di sana tentu tidak memiliki nilai apa –apa, kecuali pada hari waktu ditentukan itu. Sejatinya setiap jamaah memanfaatkan momentum penting dan strategis di dalam beribadah. Perhatikanlah, setiap orang meskipun dalam keadaan sakit sekalipun dalam kondisi koma, misalnya, akan di bawa dengan ambulan disafariwuqufkan ke arafah. alangkah disayangkan jamaah yang sehat berada di arafah, lalai dengan aktifitas yang tidak ditradisikan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu sejatinya setiap orang yang berada di arafah melakukan wuquf diisi dengan  memenuhi beragam aktifitas yang disunnatkan seperti tersebut di atas.
Mengapa Arafah?
Penamaan wilayah tempat wuquf itu dengan sebutan Arafah ada beberapa pandangan serta alasan yang dijadikan penyebutan tempat sebagai Arafah.  Antara lain, disebutkan bahwa Malaikat Jibril berseru kepada Ibrahim pada demikian tempat seusai mereka memperbincangkan manasik haji. Jibril bertanya arafta dan Ibrahim menjawab na’am. Nah ditempat itulah Ibrahim mendapatkan pendidikan konprehensif tentang manasik haji dari Jibril dan daru unsur pertanyaan Jibril itulah nama tempat di mana mereka disebut dengan arafah. ada juga pandangan lain, yang menyebutkan bahwa Hawa dean Adam as keduanya dipertemukan dan saling mengenal di tempat itu (lianna hawa wa adam ijtami’an fihi wata’arufa).
Dan mereka berdua ya’tarifunahum bidzunubihim sekaligus memohon keampunan Allah SWT, permohonan mereka ini mendapat respon dari Allah SWT dan diberikan kepada mereka berkah dan rahmat demikian juga tempat itu, yakni di Arafah.  Melihat dimensi historis dan normatif dari beberapa peristiwa tersebutlah makanya, Ulama sangat menegaskan bahwa salah satu aktifitas penting di arafah itu adalah menyadari akan kesalahan dosa dan diri masing masing betapa lemahnya tanpa mendapat keampunan Allah. Oleh karena itu aktifitas penting dimaksud menyadari kesalahan dan dosa sekaligus memohon keampunan Allah, inilah aktifitas esensial diantara beragam aktifitas ibadah ketika wuquf di Arafah.
Filosofi  Haji Mabrur  
Filosofi ibadah haji memiliki kewajiban yang sejatinya diperhatikan, bahwa ulama menganjurkan bahwa kewajiban pertama bagi calon haji adalah bertaubat. Bertaubat dari semua dosa dan maksiat, baik calon haji itu seorang petani, pegawai, polisi, artis, dokter, menteri maupun seorang kiayi, laki-laki maupun perempuan , tua maupun muda.  Dan kehadiran untuk menunaikan ibadah haji, adalah semata karena sebuah ucapan dan menghayati makna ucapan itu labbaikallahumma labbaik, dst. Ya Allah aku datang, akau datang, memenuhi panggilanMu, lalu aku berdiri di depan pintuMu. Aku singgah di sisiMu. Aku pegang erat kitabMu, aku junjung tinggi aturanMu, maka selamatkan aku dari adzabMu, kini aku siap menghamba kepadaMu, merendahkan diri dan berkiblat kepadaMu. BagiMu segala ciptaan, bagiMu segala aturan dan perundang-undangan, bagiMu segala hukum dan hukuman tidak ada sekutu bagiMu. Aku tidak peduli berpisah dengan anak dan istriku, meninggalkan profesi dan pekerjaan, menanggalkan segala atribut dan jabatan, karena tujuanku hanyalah wajah-Mu dan keridhaanMu bukan dunia yang fana dan bukan nafsu yang serakah maka amankan aku dari adzabMu.
Terdapat pandangan bahwa orang yang telah menunaikan haji, maka haji yang dilaksanakannya sudah pasti menjadi haji yang mabrur. Inilah apndangan umjum dan paling tidak harapan semua mereka yang berhaji, adalah mendapatkan haji yang mabrur. Bagaimana sebenarnya hakikat haji mabrur sekaligus balasan yang akan diterima.  Rasulullah saw bersabda: Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ” ‘Umrah -yang satu- bersama (hingga ke) ‘umrah -yang lain- merupakan kaffarat (penghapus dosa) bagi (dosa yang telah dilakukan) diantara keduanya. Sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga “. (H.R. Muslim).
Bagaimana kita memahami terhadap penegasan Rasul bahwa “‘Umrah -yang satu- bersama (hingga ke) ‘umrah -yang lain-merupakan kaffarat (penghapus) bagi (dosa yang telah dilakukan) diantara keduanya”  Imam an-Nawawi dalam syarahnya pada kitab Shahih Muslim, mengemukakan bahwa “yang dimaksud adalah keutamaan ‘umrah, yaitu menghapus dosa-dosa yang terjadi antara kedua ‘umrah tersebut. Penjelasan tentang dosa-dosa tersebut telah disinggung pada kitab ath-Thaharah , demikian pula penjelasan tentang bagaimana sinergisitas dengan hadits-hadits tentang kaffarat wudhu’ terhadap dosa-dosa tersebut, kaffarat semua shalat, puasa pada hari ‘Arafah dan ‘Asyura’ “.
Dalam kitab Tuhfah al-Ahwazi Syarh Sunan at-Turmuzi, Pensyarahnya menyatakan bahwa pengertian dosa-dosa disini adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (Kaba-ir ), sama halnya dengan sabda beliau yang berkaitan dengan keutamaan hari Jum’at, bahwa Jum’at yang satu bersama (hingga ke) Jum’at yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus) dosa yang telah dilakukan diantara keduanya.
Menurut  Ibnu Khalawaih: al-Mabrur artinya al-Maqbul (yang diterima). Berkata selain beliau: ‘ (maknanya adalah) Haji yang tidak terkontaminasi oleh sesuatu dosa. Pendapat ini didukung oleh Imam an-Nawawi..”.  Imam al-Qurthubi berkata: “pendapat-pendapat seputar penafsirannya hampir mendekati maknanya satu sama lain, yaitu haji yang dilaksanakan tersebut memenuhi hukum-hukum yang berkaitan dengannya dan manakala dituntut dari seorang Mukallaf (orang yang dibebani perintah syara’) agar melakukannya secara sempurna, hajinya tersebut kemudian menempati posisi tertentu”.
Sementara itu syarahnya terhadap kitab Muwaththa Malik, Imam az-Zarqany menyatakan bahwa makna sabda Nabi SAW: “dan haji yang mabrur” ; dapat berarti bahwa orang yang melakukan haji tersebut mengimplementasikan perbuatannya setelah itu ke jalan kebajikan bukankah  kata Mabrur diambil dari kata al-Birr yang artinya kebajikan.
Sementara itu filosofi penegasan Rasulullah SAW  “tidak ada balasan baginya selain surga” ; menurut Imam an-Nawawi adalah bahwa balasan bagi orang yang melakukannya tidak hanya sebatas terhapusnya sebagian dosa-dosanya akan tetapi dia pasti masuk surga.  Selanjutnya, Imam az-Zarqany menyatakan bahwa Rasulullah menyebutkan dan menjanjikan bahwa tidak ada balasan bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.
Melihat filosofi tersebut, maka sebagaimana dikemukakan  Imam an-Nawawi bahwa,  “Diantara tanda-tanda diterimanya adalah bahwa sepulangnya dari haji, orang tersebut menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya dan tidak mengulangi lagi perbuatan-perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya”.
————
Materi ini merupakan khutbah Jumat di Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Juga bisa dibaca di Gema Baiturrahman.
Posted in: Makalah

Leave a Comment