Argumen al-Harakat Ranah Filsafat Metafisika Ibn Thufail

*Resume kuliah 22/10/2012

Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Abd al-Malik Ibnu Muhammad ibnu Muhammad ibnu Thufail. Ia dilahirkan di Cadix, Provinsi Granada, Spanyol, 506 H/1110 M. dia berasal dari suku Arab terkemuka dan lebih dikenal dengan sebutan Abu Bacer.

Ibnu Thufail menguasai pelbagai bidang ilmu, terkenal pada dinasti al-Muwahhid Spanyol sebagai penyair kenamaan. Memulai karir sebagai  dokter. Pernah diangkat sebagai sekretaris pribadi Gubernur Geuta oleh putra al-Mukmin. Dia memahami ilmu filsafat, kedokteran, astronomi, dan matematika.

Dalam karir kedokterannya ia pernah meletakkan jabatan dokter pemerintah (1182M) karena alasan usia lanjut. Dan dia merekomendasikan Ibnu Rusydi muridnya sebagai penggantinya. Dia menerima penghargaan atas jasanya di bidang medis dan wafat 580 H/1184 M di Marokko, ketika prosesi pemakamannya dihadiri oleh penguasa sebagai bukti kedekatannya dengan pemerintah.

Karyanya sedikit sekali informasi yang diperoleh, tetapi maha karya yang membuat dia terkenal adalah risalat Hayy ibn Yaqdzan fi Asrar al-Hikmayt al-Masyriqiyyat (roman philoshopis). Konsepsi pemikiran Ibnu Thufail adalah konfigurasi kisah roman philosophis tersebut. Menurutnya dlam konteks kehidupan Hayy dengan akal yang dimiliki ia telah mengetahui adanya Allah.

Untuk pembuktian adanya Allah, Ibnu Thufail cenderung menggunakan argument al-harakat. Dia menyimpulkan bahwa gerak alam ini cukup menjadi bukti adanya Allah, tidak terbatas bagi orang yang meyakini alam itu baharu maupun bagi mereka yang meyakini alam itu kadim. Subtansi yang dapat diketahui adalah bahwa alam ini baharu berarti alam ini sebelumnya tidak ada kemudian menjadi ada (creatio ex-nihillo), dan untuk menjadi ada mustahil dirinya yang menjadikan ada (mengadakannya).

Atas dasar inilah semestinya ada Penciptanya. Dan Pencipta itulah yang menggerakkan alam semesta dari tidak ada menjadi ada yang disebut dengan Allah. Demikian pula halnya dengan alam ini tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada (creatio in-nihillo) kadim tidak berawal dan tidak berakhir adalah pada pandangan bahwa keberadaan zaman tidak mendahuluinya artinya kata gerak disini bukan didahului oleh diam. Namun yang menjadi fokus bahasannya adalah gerak disini tentu ada yang menggerakan sebagai Penggerak utama yang disebutnya sebagai Allah yang maha penggerak.

Kalau dicermati disinilah letak aktualitas argument gerak yang dipelopori oleh Ibnu Thufail yang membuatnya beda dengan filosof lainnya seperti ibnu Rusydi dan yang lainnya. Untuk penjelajahan nalar yang lebih mendalam, argumen gerak dapat dikongkritkan ke dalam pemaknaan bahwa ketika dipilih untuk memaknai alam kadim, gerak disini berarti berfungsi mengubah materi di alam dari potensial ke aktual. Sementara bagi yang mempersepsikan sebagai sesuatu yang baharu, itu maknanya adalah penggerak disini berfungsi mengubah alam tidak ada menjadi ada. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

 

 

Posted in: Makalah

Leave a Comment