Aceh Perlu Sarjana Islam Moderat

Pembantu Dekan I Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Dr Syamsul Rijal MAg menyatakan Aceh sangat membutuhkan para sarjana Islam berpandangan moderat. Hal ini tidak terlepas dari maraknya aksi anarkis terhadap keberadaan ajaran Ahmadiyah.

sumber: http://bandatourism.blogspot.com

“Jika kekerasan mengatasnamakan agama telah menjadi alasan pembenaran, maka kita telah menorehkan wajah lain dalam dunia Islam,” jelasnya. Menurutnya, lemahnya pengetahuan tentang Islam juga menjadi alasan yang kuat bagi sekelompok orang
untuk menghakimi kelompok lainnya.

Ia juga menyatakan paham moderat seperti yang pernah dilontarkan Mantan Direktur Lembaga Buhuts Islamiyyah Pwk Persatuan Islam (PERSIS), Arif Munandar Riswanto.

Dikatakannya, paham atau sikap moderat berbeda halnya dengan arus liberalisasi yang juga telah menggerogoti sebagian masyarakat Islam, terutama terhadap generasi-generasi muda Indonesia. “Atas nama pembaruan, HAM, kontekstualisasi,
kemaslahatan, kesetaraan gender, dan kebebasan berekspresi, telah menjeremuskan mereka kepada sikap dekonstruksi terhadap agama,” jelasnya.

Padahal, kata Syamsul, di antara mazhab Islam di Indonesia itu ada yang hidup dalam iklim keberagamaan yang super tradisionalis-taklid, kasta agamawan, fanatisme mazhab, takhayul, bidah, dan khurafat. “Di sinilah kita akan melihat relevansi ketika Islam tidak menerima sikap keberagamaan yang ekstrem. Karena, itu hanya memberikan kadar kepada suatu hal seraya
menelantarkan hal lainnya,” sebut Syamsul, seraya menegaskan, bahwa ekstremisme adalah salah satu faktor dari sekian faktor kebinasaan umat-umat terdahulu.

Sedangkan paham moderat, jelasnya, bisa dilihat dari sikap tengah Islam terhadap ajarannya berupa akidah, ibadah, akhlak, ruhani-materi, hukum, dan privat-publik. Moderat di dalam Islam berarti adil, istiqamah, bukti kebaikan, personifikasi keamanan, bukti kekuatan, dan pusat persatuan.

“Saya rasa di abad ini, perjuangan Islam harus dipusatkan terhadap nilai-nilai moderat untuk menghadapi perubahan. Terutama untuk menghadapi gerakan liberalisme dan fundamentalisme Islam,” demikian Syamsul Rijal, Dekan Fakultas Ushuluddin periode 2008-2013.

Sumber: Serambi Indonesia.    Senin, 16 Jun 2008

Posted in: On Media

Leave a Comment